
Jakarta, Petrominer – KUFPEC Indonesia mengajak karyawannya, pihak gedung dan perusahaan migas di lingkungan kantor KUFPEC berada untuk mengurangi penggunaan plastik dan mengelolanya dengan cara yang sederhana. Ini merupakan bagian dari komitmen KUFPEC dalam melestarikan lingkungan hidup dan turut berkontribusi terhadap pengurangan sampah plastik.
Agar lebih menarik, KUFPEC menggelar workshop daur ulang sampah plastik dan limbah rumah tangga dengan cara yang sederhana dan dapat dilakukan di rumah. Founder Demibumi, Jessica Halim, dihadirkan sebagai narasumber, yang membagikan wawasan dan pengalaman tentang inovasi dalam daur ulang, serta strategi yang efektif untuk mengurangi limbah plastik.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik. Kami percaya, dengan pengetahuan dan komitmen yang tepat, kita dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” ujar Ichsan Samiron, atas nama manajemen KUFPEC Indonesia (Anambas) B.V, usai workshop yang digelar di kantor KUFPEC Jakarta, Jum’at (25/7).
Ichsan mengatakan para peserta tampak antusiasme mengikuti kegiatan tersebut. Ini terlihat dari banyaknya pertanyaan dan ide kreatif yang muncul selama workshop. Beberapa karyawan bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini telah membuka perspektif baru mengenai dampak plastik terhadap ekosistem laut Indonesia.
Acara ini juga melibatkan karyawan secara aktif dalam sesi diskusi. Ada juga demo tentang praktik-praktik ramah lingkungan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan Demibumi karena dikenal sebagai gerakan yang berfokus pada upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“KUFPEC Indonesia berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan serupa dan mendorong partisipasi dari seluruh karyawan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup,” ujar Ichsan.
Apalagi, sampah plastik telah menjadi masalah lingkungan global yang signifikan, termasuk di Indonesia, yang menempati posisi kedua sebagai penyumbang sampah plastik ke laut setelah China. Data menunjukkan sekitar 64 juta ton sampah dihasilkan di Indonesia setiap tahun, dan sekitar 3,2 juta ton di antaranya berakhir di laut. Padahal, sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, sehingga bisa menyebabkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan.


























