Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero), I Made Suprateka. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer – Konsumsi listrik yang besar selama ini dianggap sebagai pemborosan. Namun data yang ada memperlihatkan, semakin besar konsumsi listrik sebuah negara, maka semakin maju ekonominya.

“Indikator kemajuan ekonomi suatu negara diukur dari konsumsi energi per kapita. Dengan mengoptimalkan listrik yang tersedia, melalui pemanfaatan untuk produktivitas dan pemerataan listrik ke seluruh wilayah, ekonomi Indonesia akan semakin meningkat,” ujar Seperti Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero), I Made Suprateka, Jum’at (22/3).

Made menyebutkan, data PLN tahun 2016 menunjukkan, konsumsi listrik per kapita Indonesia saat itu mencapai 956 kWh per kapita. Sementara negara-negara maju, konsumsi listrik per kapitanya lebih tinggi berkali-kali lipat dari Indonesia. Sebut saja Amerika Serikat yang mencapai 12.820 kWh per kapita, Korea Selatan 10.620, Jepang, 7.970, dan Inggris 5.030 kWh per kapita.

Bahkan dibandingkan negeri tetangga pun konsumsi listrik Indonesia tertinggal cukup jauh. Seperti Singapura yang mencapai 9.040 kWh per kapita dan Malaysia 4.660 kWh. Sementara Thailand 2.870 dan bahkan Vietnam, konsumsi listrik per kapitanya nyaris dua kali lipat dari Indonesia, yakni di angka 1.620 kWh per kapita.

Meski demikian, tingkat konsumsi listrik Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang signifikan setiap tahunnya. Tahun 2016, konsumsi listrik Indonesia mencapai 956 kWh per kapita. Sementara di tahun 2018 lalu konsumsi listrik di Indonesia sudah menembus 1.064 kWh per kapita.

Kemajuan peningkatan konsumsi listrik itu sendiri menjadi cermin kinerja maksimal PLN dalam menerangi Nusantara. Kinerja PLN pun secara tak langsung tercermin dalam data yang dirilis hasil survei Ease of Doing Business yang digelar World Bank.

Menyitir survei tersebut, kemudahan akses mendapatkan listrik di Indonesia atau Getting Electricity Indonesia sekarang jauh semakin mudah dibandingkan 5 tahun silam. Dalam indikator Getting Electricity, pada 2014 Indonesia berada di urutan 101, sementara di tahun 2019, peringkat Indonesia melesat nyaris tiga kali lipat menjadi urutan 33.

“Peningkatan kemudahan mendapatkan listrik di Indonesia menjadi bukti, kinerja PLN dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing industri di Indonesia untuk menjadi top ten (10) ekonomi dunia,” tegas Made.

Lonjakan peringkat itu, menurutnya, berkat keberhasilan PLN membangun jaringan pembangkit, transmisi listrik dan gardu induk di seantero Indonesia. Sejak tahun 2015 telah dibangun lebih dari 35 ribu Megawatt pembangkit, 14.400 kilometer sirkuit jaringan transmisi serta 56 ribu Mega volt Ampere Gardu Induk di seluruh Indonesia.

Dengan demikian terjadi kenaikan pasokan listrik dari pembangkit-pembangkit yang telah dibangun dan telah memasuki masa operasional (COD/Commercial Operation Date). Hal tersebut menjadikan peringkat Getting Electricity Indonesia saat ini meningkat pesat dibandingkan 5 tahun silam, dari peringkat 101 ke peringkat 33 dari 190 negara yang disurvei oleh World Bank,” jelas Made.

Realisasi penjualan listrik PLN tahun 2018 mencapai 232 TwH, atau bertumbuh 5,15 persen dari penjualan di tahun 2017. Sementara pertumbuhan pelanggan sepanjang tahun 2018 mencapai 5,65 persen dari tahun 2017 yang mencapai 68 juta pelanggan menjadi 71,9 juta pelanggan.

Daya tersambung listrik juga mengalami kenaikan menjadi 130.281 Mega volt Amper (MvA) dari tahun sebelumnya 112.018 MvA. Hasil yang dicapai PLN dalam meningkatkan penjualan listrik memang cukup baik, meskipun masih belum sesuai dengan target awal PLN yang menetapkan target pertumbuhan konsumsi listrik nasional mencapai 7 persen di 2018.

Dorong Konsumsi

Tumiran, Pakar Bidang Kelistrikan sekaligus anggota Dewan Energi Nasional, menyebutkan bahwa konsumsi listrik rumah tangga memang tengah mengalami tren penurunan. Sebabnya tak lain berkat hadirnya berbagai peralatan rumah tangga yang hemat energi dari mulai lampu LED, pendingin ruangan (AC) berteknologi plasma, kulkas, mesin cuci dan lain sebagainya.

“Sekarang rumah tangga sudah banyak gunakan peralatan yang lebih efisien di bidang energi. Bayangkan, lampu LED cuma 20 persen konsumsi listriknya dibanding lampu konvensional, begitu pula dengan tv plasma, dan lainnya,” ujar Tumiran.

Guru Besar Bidang Kelistrikan di Universitas Gadjah Mada ini memberikan saran peningkatan konsumsi listrik dengan upaya yang produktif. Antara lain dengan membuat peta jalan pengembangan industri nasional.

“Negara harus tumbuh maka harus menciptakan lapangan kerja berbasis produktivitas demi meningkatkan konsumsi listrik. Caranya dengan membuat road map pengembangan industri,” tutur Tumiran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here