Wilayah Kerja Offshore North West Java (ONWJ) dikelola oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ dengan sistem kontrak gross split setelah perpanjang kontraknya ditandatangani 18 Januari 2017 lalu hingga 20 tahun mendatang.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa hasil survey yang menempatkan Indonesia dalam 10 negara yang tidak menarik untuk melakukan investasi di sektor energi sebagai hal yang keliru. Malahan, hasil survey tersebut disebutnya sebagai tidak valid.

“Ada lima hal penting yang menyatakan survey tersebut tidak valid,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Kerja Sama, Kementerian ESDM Agung Pribadi, Rabu (9/1).

Sebelumnya, Fraser Institute menerbitkan laporan dari hasil survei terhadap para eksekutif dan manajer di industri perminyakan mengenai hambatan investasi untuk kegiatan eksplorasi dan fasilitas minyak dan gas (migas) di berbagai negara di dunia. Laporan bertitel Global Petroleum Survey 2018 tersebut diterbitkan akhir Nopember 2018 lalu.

Dalam laporan hasil survei tersebut, Indonesia masuk ke dalam 10 negara yang tidak menarik untuk investasi. Dimulai dengan yang terburuk adalah Venezuela, Yaman, Tasmania, Victoria, Libya, Irak, Ekuador, New South Wales, Bolivia, dan Indonesia.

Laporan tersebut juga menyebutkan ada 10 negara maupun daerah paling menarik untuk investasi. Mereka adalah Texas, Oklahoma, Kansas, Wyoming, Dakota Utara, Alabama, Montana, AS Lepas Pantai-Teluk Meksiko, Inggris – Laut Utara, dan Louisiana.

Menurut Agung, ada lima hal penting yang menyatakan hasil survey tersebut tidak valid.

Pertama, dalam laporan Fraser 2018 tersebut disebutkan bahwa penyusunan kontrak migas gross split dirancang secara buruk dan menghambat investasi. Namun, pada kenyataannya lelang blok migas Indonesia tahun 2018 terdapat 9 blok migas yang laku dengan skema gross split. Bahkan negara Thailand yang dalam survei Fraser 2018 rangking-nya lebih baik dari Indonesia, tapi tahun lalu hanya ada 2 blok migas yang laku.

“Tahun 2017 dan 2018 terdapat sejumlah 36 blok migas dengan skema gross split dan 14 diantaranya merupakan hasil lelang. Sebaliknya tahun 2015 dan 2016 tak ada lelang blok migas yang laku satupun dengan skema cost recovery. Artinya investor merespon bahwa kontrak migas gross split lebih baik,” jelasnya.

Kedua, proses penyusunan peraturan terkait kontrak migas gross split sudah melibatkan para investor. Bahkan perubahan peraturan gross split juga dilakukan untuk mengakomodir investor dengan tetap menjaga keuntugan negara jangka panjang lebih baik.

Perubahan tersebut antara lain pembebasan pajak saat eksplorasi, penambahan split kontraktor tidak lagi dibatasi atau bisa lebih dari 5 persen, penemuan cadangan pada lapangan komersial dapat tambahan split 3 persen, lapangan migas frontier onshore dapat tambahan split 4 persen, blok migas non-konvesional seperti CBM dan shale gas dapat tambahan split menjadi 16 persen.

Ketiga, memang betul bahwa bonus tandatangan dalam kontrak migas gross split lebih besar dibandingkan era cost recovery, dan komitmen kerja pasti investasinya juga jauh lebih besar. Itu bertujuan agar penerimaan negara lebih baik, dan jaminan investasi kontraktor agar pencarian cadangan dan produksi migas bisa lebih besar.

“Dari total 36 kontrak migas gross split, bonus tandatangan untuk Pemerintah sebesar Rp 13,4 triliun. Sedangkan komitmen investasi kontraktor sebesar Rp 31,5 triliun yang digunakan untuk pencarian cadangan migas baru dan peningkatan produksi,” ujar Agung.

Keempat, survei Fraser 2018 untuk kategori negara yang dilakukan pada 80 negara pada periode Mei hingga Agustus 2018, sehingga informasinya bisa jadi kurang maksimal. Dalam survei Fraser tahun 2018 juga tercatat bahwa angka survei perception index Indonesia mengalami peningkatan menjadi 47,16 dibandingkan tahun 2017 sebesar 35,02.

Kelima, invetasi migas tahun 2018 sebesar US$ 12,5 miliar atau mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 11 miliar. Artinya secara kuantitatif dilihat dari berbagai aspek, iklim investasi migas lebih baik dan progresif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here