Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Eko S. A. Cahyanto.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian terus mendorong masuknya investor di Kawasan Industri Ladong, Aceh. Apalagi, kawasan industri ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

“Masuknya PT Alpine Green sebagai tenant pertama dapat mendorong calon-calon tenant lainnya untuk masuk ke Kawasan Industri Ladong,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Eko S. A. Cahyanto, Kamis (18/11).

Eko menegaskan, adanya aktivitas kawasan industri atau sektor industri di suatu wilayah akan memberikan efek yang luas bagi perekonomian setempat dan nasional. Karena itulah, pembangunan pabrik Alpine Green sampai dengan produksi pertama di bulan April 2022 diharapkan dapat berjalan sesuai rencana sehingga dapat berperan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh.

Melalui PT Pembangunan Aceh (PEMA) sebagai pengelola kawasan, saat ini di Kawasan Industri Ladong tersedia total lahan seluas 66,89 hektar dengan lahan yang siap pakai seluas 17,5 ha. Selain itu, juga telah tersedia beberapa infrastruktur dasar seperti jalan, kantor pengelola, maupun jaringan energi dan jaringan air yang terkoneksi dengan PLN dan PDAM.

Saat ini, menurut Eko, perkembangan investasi di kawasan industri Ladong berada dalam tren positif. Sektor yang akan dikembangkan antara lain adalah industri pengolahan cangkang sawit dengan produk yang berorientasi ekspor.

Sebagai bukti keseriusan investasi tersebut, PEMA dan Alpine Green telah melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), yang disaksikan oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Ruang lingkup PKS ini di antaranya penggunaan lahan dalam kawasan industri Alpine Green yang merupakan sister company dari Nihhon Hudle dari Jepang.

Dalam kunjungan kerja ke Kawasan Industri Landong, Direktur Perwilayahan Industri Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, mengapresiasi PEMA yang serius menyambut para investor. Saat ini tengah dibangun jaringan utilitas untuk menunjang kegiatan industri serta pematangan lahan seluas 2 ha di lokasi pembangunan Alpine Green.

Selain itu, terdapat Pelabuhan Malahayati yang berlokasi 12 km dari Kawasan Industri Ladong. PT Pelindo selaku operator pelabuhan telah menyatakan kesiapannya dalam mendukung rencana pembangunan tenant pertama serta mengharapkan tenant-tenant lainnya untuk segera masuk sehingga utilisasi pelabuhan juga ikut meningkat.

Menurut Adie, untuk mempercepat pengembangan Kawasan Industri Ladong serta menarik minat investasi dari luar perlu dilakukan melalui beberapa strategi. Salah satunya melalui pembentukan kluster industri halal dan menetapkan Kawasan Industri Ladong sebagai salah satu Kawasan Industri Halal Nasional.

“Provinsi Aceh memiliki keistimewaan dalam urusan pemerintahan berkaitan dengan syari’at islam serta lokasinya yang berada di pintu gerbang Indonesia bagian barat, dapat menjadi brand image yang kuat sehingga berpotensi menggarap pasar ekspor ke Timur Tengah,” papar Adie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here