Jakarta, Petrominer – Pemerintah diminta untuk segera mengeluarkan surat resmi yang menetapkan PT Pertamina EP sebagai pengelola Lapangan Unitisasi Sukowati di Bojonegoro, Jawa Timur. Berlarutnya penetapan keputusan operator itu bakal memengaruhi produksi minyak dari lapangan yang berada di Blok Tuban tersebut.

“Pemerintah harus segera mengeluarkan surat resmi bahwa Pertamina EP sebagai operatorship Sukowati. Itu persoalan gampang, termasuk skema PSC-nya,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika, dalam acara “Dialog Interaktif Menuju Kemandirian Energi Nasional; Menimbang Pelibatan Mitra Asing dalam Mengelola Blok yang Diserahkan ke Pertamina,” Selasa (10/4).

Menurut Kardaya, unitisasi sebenarnya hal sederhana. Apalagi Indonesia sudah ratusan kali melakukan kegiatan unitisasi. Bukan hanya antara wilayah kerja di dalam negeri atau lintas kabupaten dan provinsi, unitisasi juga pernah dilakukan lintas negara, seperti Indonesia-Vietnam dan Indonesia-Australia.

Anggota Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika.

“Aturan unitisasi itu sudah jelas, tapi dibuat njelimet. Karena reservoar lapangan unitisasi itu mayoritas berada di WK-nya Pertamina EP, ya otomatis Pertamina EP yang jadi operator,” papar Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra ini.

Dalam kesempatan itu, Mantan Kepala BPMIGAS ini menegaskan bahwa kegiatan unitisasi bisa memberikan keuntungan bagi negara secara maksimal. Namun, untuk memulai kegiatan usaha terhadap wilayah kerja yang habis kontrak, perlu ada surat yang jelas.

Ketidakjelasan dan berlarutnya penetapan Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero), sebagai operator Lapangan Sukowati diduga karena masih belum jelasnya mitra Pertamina di Blok Tuban, yang baru saja habis masa kontrak operator sebelumnya, yakni Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ). Meski Pertamina telah ditetapkan sebagai pengelola Blok Tuban pasca terminasi 28 Pebruari 2018 lalu, namun komposisi participating interest (PI) dan mitra Pertamina di blok migas itu juga ditentukan oleh Pemerintah.

Pelibatan mitra lama (PetroChina) dianggap berpotensi menimbulkan kebingungan pengaturan dalam operasi Blok Tuban, di mana ada Lapangan Sukowati di dalamnya. Pelibatan perusahaan migas asal Cina itu dalam pengelolaan Lapangan Sukowati yang dihitung masih porsi Blok Tuban berpotensi merugikan negara.

Pasalnya, Original Oil in Place (OOIP) statik lapangan Sukowati sebesr 297 MMSTB (Million Stock Tank Barrels), dengan menggunakan moel 3D yang disepakati dan batas wilayah kerja (WK). OOIP WK Pertamina EP sebesar 274,42 MMSTB dan WK Tuban sebesar 21,93 MMSTB. Sementara kumulatif produksi Sukowati per 31 Januari 2018 sebesar 114,6 MMSB (Million Barrels), terdiri atas kumulatif produksi WK Pertamina EP 91,7 MMSTB dan kumulati produksi WK Tuban 22,6 MMSTB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here