Surabaya, Petrominer – Ide awalnya adalah mengurangi sampah plastik. Namun ternyata program ini justru bernilai ekonomi. Pasalnya, sampah plastik yang sudah dipilah-pilah bisa dijual dan hasilnya dimanfaatkan untuk membiayai beragam kegiatan.
Itu terjadi di Kampung Hijau yang berlokasi di Kelurahan Jagir Wonokromo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini diinisiasi oleh PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Jawa Timur Bali dan Nusatenggara (Jatim Balinus).
Tidak hanya itu, kampung yang kini diberi nama Kampung Hijau Health Safety Security Environment (HSSE) Pertamina itu juga turut memberdayakan para lansia (lanjut usia). Di sana, para lansia bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui berbagai kegiatan ekonomi yang dikembangkan.
Menurut Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji, Kampung Hijau HSSE Pertamina bertujuan untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat dengan kehidupan warganya yang guyub. Program ini juga sekaligus mendukung Pemerintah Kota Surabaya untuk mengurangi sampah plastik.
“Pertamina telah mengucurkan dana sekitar Rp 600 juta selama dua tahun terakhir dan berhasil membuat Kampung Hijau HSSE meraih berbagai penghargaan dari Pemerintah Kota Surabaya dalam hal penataan dan pembinaan lingkungan,” ujar Rustam.
Kampung Hijau HSSE memiliki 3 kelompok binaan, yakni Wasiat atau Warga Siap Tanggap Darurat, Lansia Selamat atau Lanjut Usia Sehat Langgeng dan Bermanfaat serta Bank Sampah. Masing-masing kelompok binaan ini memiliki kegiatan sendiri baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun lingkungan.
Lansia Selamat misalnya, memiliki kegiatan budidaya jamur, lele, tanaman hidroponik serta usaha konveksi dan program UMKM. Kegiatan ini telah meningkatan pendapatan bagi para Lansia sebesar Rp 2.650.000 per bulan.
Demikian juga Wasiat, mendapatkan penghasilan tambahan bagi masyarakat melalui usaha motor berbasis pemanfaatan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) sebesar Rp 1.200.000 per bulan.

Sedangkan Bank Sampah telah mengurangi kebiasan warga membuang sampah di sekitar pemukiman dengan mengajak ibu-ibu rumah tangga memilah sampah organik dan anorganik dari rumah tangga. Sampah-sampah anorganik dan plastik akan dikumpulkan dalam bank sampah yang kemudian dijual ke pengepul yang uangnya digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan warga lainnya. Sedangkan sampah organik dibuat pupuk (kompos) untuk tanaman penghijauan di kampung tersebut, maupun dijadikan biogas untuk memasak.
Program yang diiniasi Pertamina tersebut juga mendapat apresiasi dari La Tofi School of CSR, berupa penghargaan dengan Kategori Pemberdayaan Ekonomi Komunitas yang berhasil membuat masyarakat yang mandiri melalui peningkatan mutu kualitas produk yang dihasilkan oleh masyarakat
“Sampah merupakan masalah yang kerap dihadapi kota-kota besar seperti Surabaya, karena itu Pertamina akan terus mendukung pengurangan dan pengelolaan sampah melalui berbagai program CSR yang berkelanjutan,” pungkas Rustam.










Tinggalkan Balasan