Kegiatan eksplorasi yang dilakukan Pertamina EP di Bojonegoro, Jawa Timur.

Jakarta, Petrominer – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia memuji konsistensi PT Pertamina EP dalam melakukan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di wilayah kerja yang dikelolanya. Apalagi, kegiatan eksplorasi yang disebutnya cukup masif tersebut tetap dilakukan meski harga minyak dunia sedang lesu.

“KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) harusnya melakukan kegiatan eksplorasi demi menambah cadangan dan mengganti minyak dan gas yang telah diproduksikan. Saya melihat PT Pertamina EP salah satu yang konsisten melakukan eksplorasi di tengah penurunan harga minyak sejak beberapa tahun terakhir,” ujar Ketua Komite Tetap Energi Migas KADIN Indonesia, Firlie H Ganinduto, Jum’at (20/3).

Agar kegiatan eksplorasi makin masif, menurut Firlie, Pemerintah dan SKK Migas sebaiknya memberikan insentif kepada KKKS. Salah satunya insentif fiskal berupa pembebasan pajak saat eksplorasi. Pasalnya saat ini, kegiatan eksplorasi masih terkena pajak.

“Itu mungkin kita harus bicarakan dengan Kementerian Keuangan untuk membebaskan dalam masa eksplorasi. Setelah produksi ada income, baru kena pajak yang sesuai aturan negara,” ungkapnya.

Apalagi, jelas Firlie, Indonesia masih berpotensi mengembalikan produksi minyak ke level 1 jutaan barel per hari (BOPD) karena masih banyaknya potensi cadangan. Tentunya, tingkat produksi tersebut bisa dicapai melalui kegiatan eksplorasi yang masif, karena saat ini produksi masih di bawah 725 ribu BOPD.

Berdasarkan data SKK Migas, saat ini terdapat 10 wilayah yang berpotensi memiliki cadangan cukup besar (giant discovery) antara lain di Sumatera Utara (Mesozoic Play), Sumatera Tengah (Basin Center), Sumatera Selatan (Fractured Basement Play), Northern Papua (Plio-Pleistocene & Miocene Sandtone Play), Bird Body Papua (Jurassic Sandstone Play), dan Warim Papua. Dari 128 cekungan (basin), baru 54 cekungan yang sudah melalui eksplorasi dan eksploitasi dengan reserves 3,2 miliar barel minyak dan gas 100 triliun kaki kubik (TCF).

“Masih ada 70-an cekungan yang belum dikelola. Penemuan baru akan mengubah sumber daya alam menjadi cadangan bertambah di kemudian hari. Kalau cadangan tidak ditemukan, kita akan mengalami penurunan sumber daya migas cukup siginifikan dibandingkan kebutuhannya,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Firlie memuji program eksplorasi yang dilakukan Pertamina EP. Anak usaha PT Pertamina (Persero) ini disebutnya sangat konsisten dalam melakukan eksplorasi meski harga minyak sedang mengalami penurunan.

Pujian tersebut disampaikan bukan tanpa bukti. Selama tiga tahun terakhir, Pertamina EP telah mengeluarkan anggaran sebesar US$ 494 juta atau sekitar Rp 6,87 triliun (kurs rerata Rp 13.925 per US$) untuk kegiatan eksplorasi. Dana itu dialokasikan untuk pemboran 26 sumur (wildcat dan appraisal), survei seismik 2D sepanjang 2.508 km, dan survei seismik 3D seluas 1.367 km2 sepanjang 2017-2019.

Dari aktivitas tersebut, Pertamina EP berhasil menemukan sumber daya 2C. Pada tahun 2017 ditemukan sumber daya 2C setara 64 juta barel setara minyak (MMBOE). Kemudian, naik menjadi 71 MMBOE pada tahun 2018, dan melonjak lagi menjadi 103 MMBOE pada tahun 2019.

Tahun ini, temuan sumber daya 2C diproyeksikan 106 MMBOE dengan alokasi anggaran investasi dan operasi eksplorasi sebesar US$ 112 juta.

Buka Data Lama

Pujian serupa juga disampaikan oleh Anggota Dewan Pakar Asosiasi Daerah Penghasil Migas, Deni Rahayu.

Deni menilai Pertamina EP adalah salah satu KKKS yang masih melakukan eksplorasi cukup signifikan. “Kalau tidak salah mereka (PEP) akan melakukan pemboran sumur ekplorasi sebanyak 10 sumur dan sumur pengembangan 99 sumur,” ujarnya.

Menurut Deni, Pertamina EP telah menerapkan konsep Quantity Assurance, yaitu metodologi monitoring kuantiti aliran migas dari suatu proses ekplorasi, operasi dan produksi. Dengan demikian, data dan informasi bisa lebih terverifikasi dan tervalidasi.

Dengan begitu, proses bisnis Pertamina EP dapat dilihat secara utuh, sehingga improvement optimalisasi produksi dapat dilakukan. Tidak hanya itu, data ini juga dapat digunakan sebagai bahan dasar bagi keputusan-keputusan Pertamina EP dalam melakukan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan produksi lainnya.

Sebagai petroleum geoscientist, Deni percaya penambahan cadangan Pertamina EP dapat dicapai karena banyak potensinya. Eksplorasi yang masif masih dapat dilakukan dengan melihat kembali data-data terdahulu (data sumur, seismik maupun studi sebelumnya) terkait upside potensial yang bisa didapatkan.

“Sejarah eksplorasi memperlihatkan kepada kita bahwa penemuan-penemuan lapangan baru bisa karena reinterpretasi data lama maupun penggunaan konsep konsep baru dari kegiatan ekplorasi, baik di daerah baru maupun daerah yang sudah produksi,” ungkapnya.

Terkait kendala yang dihadapi KKKS dalam eksplorasi, Deni menyebutkan masalah perizinan, tumpang tindih lahan, dan kondisi lainnya. Hal ini tentunya perlu dukungan seluruh stakeholders migas agar berjalan tidak sektoral, sehingga kejadian-kejadian tersebut bisa dicarikan solusi, baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah maupun KKKS.

“Ketidakpastian petroleum system, tentunya dapat dikurangi dengan melakukan kegiatan-kegiatan ekplorasi yang cukup sehingga risiko berkurang,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here