Jakarta, Petrominer — Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menginginkan harga listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) bisa lebih rendah lagi. Meskipun biayanya cenderung lebih mahal ketimbang dari energi fosil, para pengusaha listrik dari EBT diminta untuk berupaya keras membuat harga yang kompetitif.
Menteri mengibaratkan, harga tarif listrik EBT harus bisa seperti industri telepon seluler (ponsel) yang semakin lama harganya semakin murah. Apalagi, dengan teknologi yang semakin berkembang, seharusnya Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik dari pembangkit EBT semakin murah, bukan semakin mahal.
“Kalau semakin lama, semakin mahal namanya prakarya bukan bisnis,” kata Jonan dalam Dialog Energi 2017, Kamis (2/3).
Dia mencontohkan, pada 25 tahun lalu harga ponsel mencapai Rp 17 juta per unit. Harga tersebut sama dengan sebuah mobil mini bus pabrikan Jepang pada saat itu.
“25 tahun lalu, mobile phone Motorola baterainya sebesar ransel harganya Rp 17 juta, waktu yang bersamaan Toyota Kijang juga harganya sama,” kata Jonan.
Namun, seiring berjalannya waktu, harga ponsel justru semakin murah, padahal fitur maupun kecanggihan yang ditawarkan amat beragam. Sedangkan harga mobil justru semakin meningkat.
Dalam kesempatan itu, Jonan kembali menegaskan bahwa Pemerintah terus mendorong EBT dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025. Hal itu telah ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang juga akan segera ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED).
“Kemarin bapak Presiden baru saja menandatangani rencana umum energi nasional, kita memiliki RUEN untuk membuat RUED, disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Mohon kalau bisa realistis, jadi kalau sudah terjadi coba dicari mitigasinya, sesuai dengan RUEN-nya,” paparnya.








Tinggalkan Balasan