Lombok, Petrominer — Presiden Joko Widodo melakukan Groundbreaking proyek Mobile Power Plant (MPP) berkapasitas total 50 Mega Watt (MW) di desa Taman Ayu, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (11/6). Ini sebagai bagian dari rangkaian peninjauan progress program kelistrikan 35.000 MW.
MPP ini akan memperkuat sistem kelistrikan Lombok dan merupakan upaya percepatan dalam meningkatkan Rasio Elektrifikasi Nusa Tenggara Barat (NTB) menuju 100 persen di tahun 2020.
Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan “listrik merupakan elemen yang sangat penting, semua membutuhkan listrik, kita harus menyelesaikan hal ini bersama sama, saling membantu.”
Jokowi menjelaskan bahwa kedepannya, Indonesia harus berupaya mengoptimalkan penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), karena Indonesia kaya akan sumber daya alam. Jokowi pun berharap, semua yang sudah di target kan PLN dapat tercapai.
“MPP ini memang cepat progressnya, konstruksi terlihat sudah siap, dan semoga semua diberikan kelancaran, bulan Agustus sudah beres ya,” ujar Presiden.
Semakin Andal
Sistem kelistrikan di Wilayah NTB terdiri dari tiga sistem yang terpisah, yaitu Sistem Lombok, Sistem Sumbawa dan Sistem Bima. Sistem Lombok merupakan sistem terbesar dengan beban puncak mencapai ± 212 MW dan daya mampu pasok ± 219 MW per Juni 2016. Dengan tambahan 50 MW dari MPP Lombok, maka akan menambah keandalan daya pasok sistem Lombok.
Pembangunan MPP di Lombok ini menjadi salah satu program strategis PT PLN (Persero) yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2015 – 2024. Hal ini menjadi bukti awal komitmen PLN terhadap pembangunan infrastruktur kelistrikan di NTB yang masuk kedalam program 35.000 MW. MPP menjadi pilihan yang tepat untuk dapat segera menambah pasokan kelistrikan di beberapa daerah, karena proses pengerjaan nya yang tidak memakan waktu lama, seperti pada MPP Lombok ini membutuhkan waktu kurang lebih 5 hingga 6 bulan agar dapat beroperasi.
Dibangun sejak 8 Februari, kini pembangunan proyek MPP telah mencapai progress sebesar 70 persen.
Menurut Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dengan masuknya MPP 50 MW ke dalam sistem Lombok, maka diperkirakan rasio elektrifikasi di Lombok akan meningkat dari 73,83% (per April 2016) menjadi 78,16 % pada Desember 2016.
“Kami berharap dengan meningkatnya rasio elektrifikasi maka bisa menjadi katalisator peningkatan perekonomian masyarakat,” ujar Sofyan.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pemilihan MPP berbahan bakar gas ini merupakan keputusan yang tepat dari PLN, karena berpotensi dapat menghemat biaya pengeluaran untuk BBM hingga sebesar 26 Milyar per tahun.
Terkait program 35.000 MW, PLN akan membangun beberapa pembangkit dengan total kapasitas 500 MW. Beberapa pembangkit telah melewati tahapan pembebasan lahan, diantaranya adalah PLTGU Lombok 150 MW, PLTU Lombok dan PLTU Lombok 2 masing-masing berkapasitas 100 MW, PLTMG Sumbawa 50 MW, dan PLTMG Bima 50 MW dengan total transmisi sepanjang 103 kms.








Tinggalkan Balasan