
Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) telah menentukan pembangunan berbagai pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) dan program de-dieselisasi pembangkit fosil. Ini semua dilakukan demi merealisasikan dukungan Just Energy Transition Partnership (JETP) dalam mempercepat program transisi energi di Indonesia.
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN, Evy Haryadi, mengatakan, program ini sebagai tindak lanjut kesepakatan pemimpin negara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali tahun 2022 lalu dengan komitmen pendanaan transisi energi.
“Dalam G20 tahun lalu pemerintah Indonesia telah menandatangani kesepakatan dengan JETP untuk transisi energi di Indonesia. Sebagaimana telah disebutkan, JETP berkomitmen menyediakan dana untuk berbagai program hijau negara anggotanya,” ujar Evy yang mewakili Direktur Utama Darmawan Prasodjo dalam pembukaan ‘Forum Investasi Transisi Energi Berkeadilan’ di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Sabtu (27/5).
Menurutnya, PLN telah merancang program jangka pendek dan jangka panjang untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Salah satu program jangka pendek yang saat ini tengah dilakukan adalah proyek de-dieselisasi pembangkit berbahan bakar fosil sebesar 1 gigawatt (GW) dan menggantinya dengan pembangkit bertenaga surya (PLTS).
“PLN memainkan peran penting dalam transisi energi Indonesia ke energi bersih. Salah satu inisiatif strategis yang dilakukan PLN sebagai langkah konkrit menuju net zero emission adalah pelaksanaan program de-dieselisasi,” kata Evy.
Dia menegaskan, tantangan utama program de-dieselisasi adalah banyaknya pembangkit yang tersebar di daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu, PLN membutuhkan strategi yang tepat untuk melakukan transisi pembangkit tersebut, baik dari sisi ekonomi maupun teknologi.
Untuk fase pertama, PLN berencana membangun 0,2 GW PLTS di 94 lokasi berbeda. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sebesar US$ 0,7 miliar. PLN melalui subholdingnya, yaitu PLN Nusantara Power dan PLN Indonesia Power, secara aktif terus mencari partner strategis dalam berkolaborasi demi mensukseskan program de-dieselisasi.
“PLN menyadari bahwa pelaksanaan program de-dieselisasi membutuhkan investasi yang besar baik dari segi keuangan maupun sumber daya teknologi. Dengan demikian, kolaborasi yang kuat antara PLN, pengembang, lembaga keuangan, dan mitra strategis lainnya sangat penting untuk keberhasilan program de-dieselisasi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Head of JETP Secretary, Edo Mahendra, mengungkapkan bahwa selama 6 bulan ini, dari Februari hingga Agustus 2023, JETP tengah menggodok secada detail rencana untuk pengalokasian komitmen dana sebesar US$ 20 miliar. Harapannya, berbagai program transisi energi yang sudah dirancang oleh negara-negara yang tergabung dalam JETP bisa segera dijalankan.
“Kita sudah membangun pondasinya. Kami sangat bersyukur dengan dukungan dan komitmen yang diberikan oleh komunitas internasional dalam transisi energi,” jelas Edo.
Menurutnya, program de-dieselisasi dan pembangunan pembangkit EBT penggantinya sebagaimana dilakukan PLN merupakan pilot program dalam JETP. Untuk itu, pihaknya akan memberikan dukungan penuh agar program de-dieselisasi ini bisa sukses.
“Mari sukseskan program ini. Karena hanya dengan kerja bersama proyek ini bisa terwujud. Keberhasilan proyek ini akan menjadi showcase dan rujukan untuk lebih banyak program transisi energi selanjutnya,” ujar Edo.

























