Mendag Enggartiasto Lukita tengah menyimak penjelasan Kepala Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB, Subagjo.

Bandung, Petrominer – Pemerintah berharap program penelitian dan pengembangan bioavtur yang saat ini tengah dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dapat mendukung upaya pemerintah untuk menekan impor. Pengembangan bahan bakar nabati ini juga diharapkan bisa menghasilkan lebih banyak devisa.

Karena itulah, Pemerintah mengharapkan proses penelitian mengenai prosentase pencampuran minyak sawit dengan Avtur bisa selesai akhir tahun ini. Dengan begitu, jelas langkah apa yang akan dilakukan, termasuk juga perlu mempresentasikan kepada Presiden Joko Widodo, konsep dan hasil penelitian yang siap diterapkan ke industri.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat mengunjungi Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB akhir pekan lalu. Dalam kunjungan kerja itu, Mendag didampingi oleh Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahya Widayanti dan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan, serta Rektor ITB dan Kepala Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis, Subagjo.

“Sebagai lembaga yang dikenal dengan inovasi teknologi dan pengembangannya, ITB juga turut mempertimbangkan aspek perhitungan bisnis. Sebab kalau hanya murni mengambil dari sudut teknologi saja, maka tidak akan terlihat perhitungan keekonomisannya,” ujar Enggariasto.

Saat ini, Pemerintah sudah menerapkan penggunaan bahan bakar campuran biodiesel 20 persen (B20) untuk semua. Selama ini, biodiesel dikenal masyarakat sebagai bahan bakar bersubsidi dengan sebutan biosolar yang biasa dipasarkan oleh PT Pertamina (Persero). B20 merupakan bahan bakar hasil pencampuran minyak solar dengan biodiesel berbahan dasar sawit sebanyak 20 persen.

Menurut Enggartiasto, untuk memperluas penggunaan bioavtur yang perkembangannya cukup cepat, teknologi harus mengikuti perkembangan ini. Termasuk dari implementasi B20 ke B30 dan B50 yang kini secara bertahap diimplementasikan, salah satunya oleh kendaraan taktis Komodo yang menggunakan bahan bakar khusus dari B20 menuju B50.

“Saat mengadakan kunjungan kerja ke Amerika Serikat di akhir bulan Juli lalu, saya sudah menyampaikan baik kepada pihak Boeing ataupun Airbus mengenai kesiapan Indonesia menerapkan Bioavtur. Sehingga nantinya apabila mereka menjual pesawatnya ke Indonesia, mereka harus mempersiapkan penggunaan Bioavtur dalam pesawatnya,” paparnya.

Bahkan saat ini, jelas Mendag, ITB juga sudah dalam penelitian menuju B100. Itu sebabnya implementasi penggunaan minyak sawit pada B100 ataupun Avtur bisa meningkatkan devisa bagi negara. Penggunaan bioavtur juga diharapkan menepis anggapan tidak baik terhadap minyak sawit.

Berbagai pihak dilibatkan dalam kerjasama ini, antara lain dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDP-KS), Pertamina dan pengusaha dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Pemerintah memberi keleluasaan kepada pihak ITB untuk melakukan penelitian, dengan melalui serangkaian pentahapan.

Dalam kesempatan sama, Subagjo mengemukakan bahwa penelitian yang dilakukan adalah dengan menurunkan persentase penggunaan Avtur menjadi campuran minyak sawit yang lebih tinggi. Selama ini, sejumlah negara lain seperti Singapura juga sudah mulai menerapkan bioavtur. Sehingga ada kekhawatiran, negara itu justru akan mengekspor produk bioavtur-nya ke Indonesia, padahal komponen minyak sawit dan gas-nya diambil dari Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here