Limbah B3 yang akan diolah di PT TLI menjadi bahan bakar alternatif di pabrik semen.

Cirebon, Petrominer – Pemerintah berkomitmen untuk memberi insentif kepada perusahaan pengolahan limbah yang berasal dari peralatan elektronik. Namun bentuknya masih didiskusikan. Pasalnya, kebijakan ini masih perlu diadakan studi dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Teddy C. Sianturi, bentuk insentifnya bisa berupa pengurangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Atau bisa juga berupa keringanan Pajak Penghasilan (PPh). PPN yang biasanya dikenakan sebesar 10 persen, bisa dikurangi menjadi 0 persen.

“Insentif itu perlu diberikan karena mereka adalah para pejuang lingkungan yang menyelamatkan limbah,” ujar Teddy saat mendampingi sejumlah delegasi Pemerintah China dalam melakukan kunjungan kerja ke perusahaan industri pengelola Limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3), yaitu PT Teknotama Lingkungan Internusa (TLI) di Majalengka, Cirebon, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Delegasi Pemerintah China dipimpin oleh Direktur Jenderal Kerja Sama Ekonomi Luar Negeri, Kementerian Ekologi dan Perlindungan Lingkungan China, Chen Liang. Dalam rangkaian kunjungan yang berlangsung selama beberapa hari itu, hadir juga Assistant Country Director United Nations Development Programme (UNDP) China, Wan Yang, dan Senior Programme Manager Environment Unit UNDP Indonesia, Anton Sri Probiyantono.

Setelah berkunjung ke PT TLI, delegasi juga meninjau PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLi), perusahaan industri pengelola limbah BB3 yang berlokasi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Teddy memaparkan, untuk menetapkan bentuk insentif itu, perlu diadakan studi dalam bentuk pengajuan proposal sambil merangkul para pemangku kepentingan (stakeholder). Baru setelah itu diadakan pembicaraan dengan OJK dan kemudian disampaikan kepada BKF.

Selama ini, insentif baru diberikan kepada pengusaha daur ulang plastik, melalui Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia. Insentif bagi pengusaha ini bisa cepat terealisasi karena kebanyakan pengusaha yang bergerak dalam bidang tersebut berskala kecil dan menengah.

Para anggota Delegasi Pemerintah China tampak serius mengikuti penjelasan mengenai pengolahan limbah di PT TLI.

Saling Belajar

Sementara itu, Chen Liang mengemukakan harapannya agar Pemerintah Indonesia dapat bekerjasama dengan UNDP China, UNDP Indonesia, dan juga kementerian terkait dalam bidang pelestarian lingkungan, khususnya untuk menangani limbah industri dan bahan pencemar organik yang persisten (Persistent Organic Pollutants/POPs).

“Kami mengharapkan adanya dukungan bidang ekonomi yang dapat diberikan kepada perusahaan (PT TLI). Kami berharap, apabila tertarik, perusahaan dapat berinvestasi di China ataupun menjalin kerjasama dengan investor di China. Hal tersebut bisa dimulai dengan diadakannya diskusi penanganan limbah dengan para pengusaha bidang yang sejenis di negeri kami,” paparnya.

Dalam kunjungan kerja ke PT TLI, delegasi sudah melihat bagaimana pengelolaan limbah berbahaya dan penanganannya sudah dilakukan secara cukup komprehensif, baik dari sistem manajemennya maupun dari peralatan yang digunakan.

“Berdasarkan penjelasan baik dari pihak Kemenperin dan UNDP Indonesia, kami melihat penanganan limbah dan merkuri di Indonesia telah ditangani dengan baik, dan juga didukung oleh kebijakan pemerintah, termasuk juga didukung oleh sistem dan peraturan yang baik dari Pemerintah Indonesia,” tegas Chen Liang.

Itu sebabnya, dia menyatakan bahwa pihaknya perlu mencontoh dalam hal transportasi limbah yang dilakukan oleh PT TLI, yang semuanya berada di bawah satu atap, satu pintu, dan juga dalam ruang tertutup. PT TLI diakui sudah punya manajemen yang berpengalaman dan teknologi yang mumpuni, sehingga model ini dapat dicontoh bersama.

Salah satu mesin pengolah limbah di PT TLl.

Dapat Menekan Harga

Dalam kesempatan sama, Presdir/CEO PT TLI, Utomo Santosa, menyatakan perusahaannya memiliki konsep untuk memanfaatkan limbah. Dengan demikian, perusahaan itu bisa menekan harga limbah pada umumnya, sehingga dapat memanfaatkan keberadaan limbah tersebut.

“Di sana terjadi peningkatan value, sehingga limbah tersebut dapat diolah kembali dan dimanfaatkan oleh pabrik semen. Pada dasarnya, limbah diolah dan dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pada pabrik semen,” jelas Utomo.

PT TLI berdiri sejak tahun 1995. Perusahaan ini memperkerjakan 800 karyawan di seluruh pabriknya di Indonesia.

Untuk mengatasi masalah transportasi, PT TLI menggunakan truk sendiri. Dengan begitu, ada jaminan (kepastian) produknya sampai ke pabrik. Selain itu, waste generator juga tidak perlu jadwal pengiriman yang teratur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here