, ,

Ini Upaya Agar Kegiatan Hulu Migas Lebih Positif

Posted by

Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus menjaga agar aktivitas dan investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) tetap berjalan optimal. Bahkan seperti saat ini di tengah tantangan pandemi global dan penurunan harga minyak bumi dunia.

“Kami terus lakukan upaya menjaga agar investasi dan business activity migas tetap jalan positif. Kami optimis tren ke depan kondisi akan lebih baik,” ujar ungkap Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas, Kementerian ESDM, Ego Syahrial, dalam jumpa pers virtual, Rabu (5/8).

Ego menyebutkan, ada beberapa indikator atas optimisme pertumbuhan tersebut. Pertama, regulasi terkait kontrak kerja sama migas telah disempurnakan. Kedua, rencana penawaran Wilayah Kerja (WK) Migas tahun 2020 dan eksplorasi migas tetap dilakukan.

“Dan ketiga, kami melakukan upaya lainnya untuk mempermudah investasi hulu migas, termasuk penjajagan kerja sama dengan institusi riset/survey internasional,” ungkapnya.

Untuk lebih meningkatkan iklim investasi hulu migas, Kementerian ESDM telah menerbikan Peraturan Menteri ESDM No.12 Tahun 2020 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 08 Tahun 2017 Tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Kebijakan baru ini memberikan penegasan terkait pemberlakuan bentuk Kontrak Kerja Sama dan fleksibilitas bentuk Kontrak Bagi Hasil (Cost Recovery atau Gross Split) yang dapat diberlakukan.

“Untuk WK Baru yang dilelang, maupun untuk WK yang akan akan berakhir jangka waktu kontraknya, terbuka pilihan untuk dapat menggunakan bentuk Kontrak Bagi Hasil dengan mekanisme Cost Recovery, Gross Split ataupun bentuk Kontrak Kerja Sama lainnya. Pemerintah menerapkan hal tersebut dengan mempertimbangkan tingkat resiko, iklim investasi, dan manfaat bagi negara,” jelas Ego.

Lelang WK Migas

Dengan didukung oleh regulasi tersebut, Kementerian ESDM juga sedang menyiapkan rencana penawaran wilayah kerja migas tahun 2020.

“Sedang di-evaluasi akhir apakah 10 calon Wilayah Kerja tersebut akan ditawarkan semua atau hanya beberapa Wilayah Kerja yang memiliki potensi paling menarik. Evaluasi juga dilakukan terkait terms and conditions yang lebih menarik dan kemungkinan penerapan kontrak bagi hasil gross split atau cost recovery,” paparnya.

Menurut Ego, Kementerian ESDM terus melakukan evaluasi agar hasilnya maksimal dengan mempertimbangkan masukan dari stakeholder yang dilakukan secara pro-aktif. Dia pun menegaskan bahwa tahun 2020 ini akan ada beberapa wilayah kerja migas yang dilelang. Pelaksanaannya, paling cepat akhir triwulan ketiga atau triwulan keempat 2020.

Selain upaya tersebut, Pemerintah juga terus mendorong agar eksplorasi migas terealisasi dengan maksimal. Sampai Juli 2020, WK migas status eksplorasi berjumlah 99 WK, yang terdiri dari 73 Wilayah Kerja Migas Konvensional dan 26 Wilayah Kerja Non Konvensional.

Skema Kontrak Kerja Sama pada 99 Wilayah Kerja eksplorasi tersebut terdiri dari 81 kontrak bagi hasil Cost Recovery dan 18 Wilayah Kerja kontrak bagi hasil Gross Split, dimana 4 diantaranya merupakan perubahan dari kontrak bagi hasil Cost Recovery menjadi kontrak bagi hasil Gross Split.

Hingga akhir Juni 2020, kegiatan eksplorasi yang dilakukan mencakup seismik 3D seluas 828,17 km2 dan seismik 2D sepanjang 28.097,25 km (termasuk carry over kegiatan tahun 2019) serta pemboran eksplorasi sebanyak 8 sumur. Adapun perkiraan sumberdaya migas diperoleh dari 3 sumur temuan yaitu Sumur PB-02 Texcal Mahato sebesar 26 MMBO, Wolai-2 Pertamina EP sebesar 380,93 BCFG dan Bronang-2 Medco South Natuna Sea- B sebesar 23,9 BCFG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *