Rig offshore di lapangan Kerisi, blok South Natuna Sea Block B, yang dioperasikan Medco E&P Natuna Ltd.

Jakarta, Petrominer – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencanangkan empat strategi untuk mengawal kinerja dan keberlangsungan kegiatan usaha hulu migas. Strategi tersebut disusun untuk mendukung pelaksanaan Long Term Plant (LTP) menuju 1 juta barel minyak per hari (BOPD).

“Untuk mengawal keberlangsungan kegiatan usaha hulu migas, SKK Migas mencanangkan empat strategi untuk mendukung long term plan (LTP), yaitu Improving Existing Asset Value, Resource to Production (R to P), Enhanced Oil Recovery (EOR), dan eksplorasi,” ungkap Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, dalam paparan Kinerja Hulu Migas Kuartal III-2020, yang digelar secara daring, Jum’at lalu (23/10).

Dwi menjelaskan, dalam Improving Existing Asset Value, ada tambahan produksi dari Program FTG (filling the gap), yakni minyak sebesar 18.300 BOPD dan gas sebesar 17 MMSCFD. Selain itu, telah dicapai kesepakatan terkait investasi awal di blok Rokan, untuk mendukung program pengeboran pengembangan yang masif dan agresif, yakni penambahan 200 sumur.

Heads of Agreement blok Rokan telah ditandatangani pada 28 September 2020 lalu. Ini memberikan ruang bagi SKK Migas untuk menjaga kelangsungan di blok Rokan hingga berakhirnya kontrak di 2021 mendatang.

“Target investasi di blok Rokan hingga Juli 2021 sebesar US$ 154 juta, dengan rincian untuk 2020 akan dilakukan pemboran 11 sumur dengan penambahan produksi sebesar 500 BOPD dan 2021 akan dilaksanakan pemboran 107 sumur dengan penambahan 5.000 BOPD,” jelasnya.

Sementara untuk program R to P, SKK Migas telah mendorong percepatan onstream POD lapangan PB blok Mahato & lapangan KBD blok Sakakemang. Tidak hanya itu, ada juga Massive Development Plan (MDP), dengan rincian 3 MDP disetujui (88 MMBOE); 3 MDP diajukan ke Menteri ESDM (450 MMBOE); 3 MDP dalam evaluasi (200+ MMBOE)

“Ada juga pengeboran empat sumur deliniasi di Natuna dalam upaya percepatan pengembangan undeveloped discovery,” ungkap Dwi.

Untuk program EOR, SKK Migas masih memproses evaluasi Pre POD Minas Chemichal EOR di blok Rokan, yang diperkirakan bisa onstream tahun 2024. Ada juga Field Trial Polymer EOR di lapangan Tanjung Pertamina EP.

Sementara untuk program exploration, hingga September 2020, SKK Migas mencatat penyelesaian survei seismik 2D di open area sepanjang 25.150 kilometer (KM) dan di wilayah kerja aktif sepanjang 1.779 KM. Dengan begitu, total saat ini mencapai 26.929 KM.

“Kita masih menunggu pemrosesan data hasil eksplorasi hingga hasil evaluasi bawah permukaan, apakah terdapat area terbuka yang layak ditindaklanjuti dengan melakukan pengeboran eksplorasi guna mencari sumber-sumber migas baru dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” kata Dwi.

Selain itu, sepanjang tahun 2020 telah dilakukan 11 pemboran sumur eksplorasi dengan sukses rasio mencapai 55 persen. Juga dilaksanakan pemboran sumur dengan target big fish-giant sebanyak 6 sumur wildcat, dengan 2 sumur mengkonfirmasi penemuan.

Usaha peningkatan produksi migas yang telah disusun SKK Migas dalam Long Term Plan.

Menurutnya, SKK Migas tetap memprioritaskan kegiatan-kegiatan untuk menemukan cadangan migas baru. Hal ini sejalan untuk mencapai visi produksi minyak 1 juta BOPD dan 12.000 MMSCFD gas di tahun 2030.

“Kami tidak ingin merasa puas dengan capaian saat ini, untuk itulah kami memasang visi jangka panjang yang implementasi strateginya dilaksanakan sejak awal tahun ini. Meskipun dampak pandemi Covid-19 dan harga minyak yang rendah telah mengkoreksi pencapaian LTP sebesar 2,7 persen dan diharapkan tahun 2022/2023 sudah sesuai rencana awal kembali,” ungkapnya.

SKK Migas juga berhasil mempercepat proses Plan Of Development (POD). Kegiatan ini merupakan upaya untuk mempertahankan cadangan migas secara berkelanjutan dengan target Reserve Replacement Ratio (RRR) mencapai 100 persen setiap tahunnya.

Hingga September 2020, RRR telah mencapai 69,6 persen dari penyelesaian 15 POD dengan penambahan cadangan sebesar 514 juta barel setara minyak (MMBOE).

Terkait dengan penyelesaian proyek migas, SKK Migas telah menyelesaikan sembilan dari 14 proyek yang akan onstream tahun 2020 ini. Dari kesembilan proyek tersebut, diperoleh tambahan produksi sebesar 3.182 BOPD dan 296 MMSCFD.

Hal inilah, menurut Dwi, yang membuatnya optimis target satu juta BOPD tahun 2030 kemungkinan tidak banyak berubah. Apalagi jika pandemi Covid-19 dapat dikendalikan mulai tahun 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here