Kilang RU V Balikpapan, Kalimantan Timur.

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) terus mengebut pengembangan kilang proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan pembangunan kilang baru proyek Grass Roof Refinery (GRR). Siang dan malam, pekerjaan pembangunan terus berjalan agar bisa selesai lebih cepat dari target

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menyatakan bahwa aklerasi pembangunan dan pengembangan kilang ini dilakukan untuk mengejar target stop impor BBM pada tahun 2026. Nantinya, kapasitas kilang yang saat ini 1 juta barel per hari akan meningkat dua kali lipat menjadi 2 juta barel per hari. Dengan begitu, kebutuhan BBM bisa dipenuhi dari kilang sendiri tanpa impor.

“Saat ini, Pertamina terus melakukan akselerasi pembangunan kilang, siang dan malam, sehingga dapat selesai lebih cepat dari yang ditargetkan,” ujar Fajriyah, Senin (2/3).

Dia menjelaskan, progress pembangunan Kilang Balikpapan sudah lebih dari 13 persen. Tahun ini, ditargetkan mencapai 40 persen. Sementara target pembangunan Kilang Balongan dan Cilacap masing-masing 10 persen.

“Kita akan terus kebut, demi kepentingan nasional. Apalagi, kilang punya peran penting bagi ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi nasional,” tegas Fajriyah.

Proyek RDMP dan GRR tersebut juga diintegrasikan dengan pembangunan industri petrokimia yang memiliki potensi bisnis Rp 40 – 50 triliun per tahun. Ini sejalan dengan target Pertamina untuk menjadi pemain utama bisnis petrokimia di kawasan Asia Pasifik.

Untuk itulah, kilang yang dibangun didesain dengan teknologi tinggi yang bisa mengolah jenis crude dari mana saja serta memiliki fleksibilitas tinggi untuk mengubah mode kilang menjadi petrokimia.

Progres di Lapangan

Sejak Pebruari 2019, proyek RDMP Balikpapan telah efektif memasuki tahap Engineering, Procurement & Construction (EPC) untuk unit ISBL (Inside Battery Limit) dan OSBL (Outside Battery Limit). Saat ini, tengah dilakukan pengadaan peralatan utama dan long lead item. Bahkan, beberapa peralatan tersebut sudah berada di lokasi.

Pekerjaan konstruksi terus berjalan, dengan pembangunan tanki RFCC Feed tank, Stone Column & Piling work, serta temporary facility. Secara bersamaan, juga sedang berlangsung proyek EPC Lawe-Lawe dan 7 proyek early work yang tak kalah pentingnya sebagai proyek pendukung RDMP Balikpapan.

“Kemajuan proyek lebih dari 13 persen ini telah menyerap sekitar 4.600 tenaga kerja,” ungkap Fajriyah.

Pertamina dan Mubadala, perusahaan investasi asal Uni Emirat Arab, telah menandatangani perjanjian kejasama dalam rangka memastikan percepatan pengembangan RDMP Balikpapan.

Sementara itu, proyek RDMP Balongan sudah menerapkan dual feed competition sehingga realisasi proyek bisa selesai satu tahun lebih cepat dari jadwal. Studi kelayakan (feasibility study) RMDP Balongan tahap I sudah dilakukan dan dilanjutkan dengan penetapan dan pengadaan lahan. Untuk tahap II, sedang dilakukan studi kelayakan.

Sementara di Kilang Cilacap, setelah selesai Proyek PLBC, kini RDMP Cilacap sedang melakukan finalisasi skema bisnis seperti yang dilakukan di Kilang Balikpapan.

RDMP Dumai dalam tahap penawaran kepada investor. Tender revisi Bankable Feasibility Study (BFS) baru saja berlangsung.

GRR Tuban sudah selesai dengan proses pengadaan lahan dan sedang dalam proses pembayaran. Pertamina dan Rosneft bahkan telah menandatangani kontrak desain Kilang Tuban dengan kontraktor terpilih pada 28 Oktober 2019. Saat ini telah dimulai pelaksanaan Basic Engineering Design (BED) dan Front End Engineering Design (FEED). Selain itu, telah dilakukan konstruksi fasilitas pendukung dan persiapan lahan restorasi sekitar 20 ha di pesisir pantai.

“GRR Tuban, pembebasan lahan milik masyarakat telah mencapai 153 ha atau 98 persen lebih dari total lahan warga yang sudah setuju untuk pembangunan kilang dan saat ini telah memasuki proses pembayaran kompensasi,” kata Fajriyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here