Rig PDSI di proyek JTB blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur.

Jakarta, Petrominer – Sejak tajak di Proyek Jimbaran Tiung Biru (JTB) Blok Cepu setahun lalu, Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) seolah mengulangi catatan prestasi yang pernah ditorehkannya di proyek-proyek sebelumnya. Semua mata pun kini tertuju pada kinerjanya di tahun-tahun mendatang.

Tatkala banyak proyek minyak dan gas (migas) Indonesia terseok-seok di tengah pandemi Covid-19, penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC) ini terus digenjot agar dapat memenuhi target mengalirkan gas pada Juli 2021. Kelancaran operasionalnya tidak terlepas dari totalitas PDSI, yang menjadi drilling services company di proyek tersebut.

Pth. Direktur Operasi PDSI, Didik Budi Hartono, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan PDSI di Proyek JTB karena berkomitmen penuh dalam memegang tugas dan kewajibannya berdasarkan aturan yang ditetapkan PEPC, selaku operator wilayah kerja.

“Sesuai imbauan Pemerintah dan pemilik WK, kami juga senantiasa menjalankan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 dalam setiap kegiatan operasional. Tentunya tanpa mengurangi etos kerja dan profesionalisme dalam menuntaskan pekerjaan kami kepada customer,” ungkap Didik, Selasa (6/10).

PDSI adalah anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang jasa pengeboran minyak, gas, dan panasbumi, baik di darat (onshore) dan lepas pantai (offshore). PDSI juga memiliki unit bisnis logistik dan jasa terkait lainnya. Perusahaan ini mengusung misi memberikan solusi terpadu berkualitas tinggi pada pengeboran, workovers, dan well services, dengan memaksimalkan nilai tambah bagi pelanggan, pemegang saham, pekerja, dan pemangku kepentingan lainnya.

Salah satu rig cyber berteknologi terkini milik PDSI.

Kini, satu tahun sejak tajak pada 17 September 2019, PDSI menorehkan sejumlah prestasi tersendiri di Proyek JTB. Keberhasilan pertama, PDSI menciptakan hingga lebih dari 30 persen saving time.

Kedua, beroperasi selama 318 hari tanpa henti, bahkan selama pandemi. Ketiga dan terakhir, produktivitas rig pengeboran PDSI di Proyek JTB mencapai lebih dari 95,08 persen.

Untuk jenis dan teknologi, PDSI menggunakan cyber walking rig berteknologi terkini. Keunggulan rig milik PDSI ini antara lain sesuai dengan batch drilling scheme di Proyek JTB, dan seluruh perangkat rig pun dapat berpindah dari sumur ke sumur dengan mudah dan aman sesuai dengan batch drilling scheme yang ada. Dengan begitu, mobilisasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.

Sebelum diaplikasikan di Proyek JTB, cyber walking rig dengan nomor identitas PDSI #40.3/DS1500-E ini beberapa kali mencatatkan prestasi yang kurang lebih sama di proyek berbeda-beda.

Salah satunya di Proyek Banyu Urip Indonesia yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Kinerja rig PDSI ini mampu beroperasi 30 hari lebih cepat.

Begitu pula saat beroperasi di Proyek Pamaguan-63 Indonesia (VICO Indonesia) dan Proyek Tomori Indonesia (JOB Pertamina–Medco). Rig yang baru mulai PDSI pergunakan di tahun 2012 ini beroperasi beberapa hari lebih cepat dari target. Tidak hanya di kegiatan pengeboran saja, catatan lebih cepat dari target ini juga diciptakan pada saat mobilisasi.

Dari sisi customer PDSI, keandalan kinerja rig PDSI ini tentu saja menjadi nilai tambah tersendiri. Salah satunya karena mendukung mereka menciptakan cost effectiveness dengan jumlah signifikan.

“Selain faktor rig berteknolog canggih, pencapaian PDSI di Proyek JTB tidak lepas dari faktor personel PDSI. Kompetensi yang sudah mumpuni dan kesigapan seluruh personel PDSI dalam menghadapi perubahan, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan, menjadi satu kunci sukses lain PDSI ketika harus beradaptasi dengan pandemi. Dengan demikian tidak sampai memengaruhi operasi kami,” ujar Didik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here