Salah satu proyek pengembangan panasbumi.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan realisasi kapasitas pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) hingga akhir tahun 2020 mencapai 10.467 megawatt (MW). Ada kenaikan 176 MW dibandingkan realisasi kapasitas pembangkit listrik EBT tahun 2019 yang sebesar 10.291 MW.

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana, tambahan sebesar 17 MW tersebut berasal dari empat pembangkit yang mulai commercial operation date (COD) sepanjang tahun 2020 lalu.

“Keempat pembangkit EBT itu adalah PLTA Poso sebesar 66 MW, PLTBm Merauke sebesar 3,5 MW, PLTM Sion sebesar 12,1 MW, dan PLTS Atap sebesar 13,4 MW,” ungkap Dadan dalam Konferensi Pers Capaian Kerja 2020 dan Rencana Kerja 2021 Subsektor EBTKE yang diselenggarakan secara virtual, Kamis (14/1).

Dia menyebutkan bahwa capaian itu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2019 realisasi kapasitas pembangkit listrik EBT mencapai 10.291 MW. Sementara untuk tahun 2021, ditargetkan kapasitas pembangkit EBT naik menjadi 11.373 MW.

“Untuk tahun 2021, rencananya akan ada tambahan 906 MW dari pembangkit listrik EBT,” jelas Dadan

Penambahan kapasitas terpasang pembangkit EBT tahun 2021 direncanakan sebesar sebesar 905,73 MW. Dengan rincian, PLTP sebesar 196 MW, PLTA sebesar 557,93 MW, PLTS sebesar 138,8 MW, dan PLTBio sebesar 13 MW.

Dalam kesempatan itu, Dadan menegaskan bahwa Pemerintah tetap berupaya menjaga investasi di subsektor EBTKE di tengah tantangan ekonomi global dalam situasi pandemi Covid-19 guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional.

“Prognosa realisasi investasi subsektor EBTKE tahun 2020 sebesar US$ 1,36 miliar, dari target total sebesar US$ 2,02 miliar. Nilai ini didominasi investasi di panasbumi. Untuk tahun 2021, investasi subsektor EBTKE ditargetkan sebesar US$ 2,05 miliar,” jelasnya.

Meski pandemi Covid-19, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) subsektor EBTKE bidang panasbumi tahun 2020 mencatatkan realisasi sebesar Rp 1.964,22 miliar. Realisasi ini sekitar 146 persen dari target sebesar Rp 1.342 miliar. Sementara PNBP tahun 2021 ditargetkan meningkat hingga Rp 1.438 miliar.

Biodiesel

Pemerintah terus meningkatkan pemanfaatan biodiesel guna mengurangi impor dan menghemat devisa. Melalui program mandatori biodiesel 30 persen (B30) yang telah diluncurkan sejak Januari 2020 lalu, prognosa realisasi pemanfaatan biodiesel untuk domestik mencapai 8,46 juta kilo liter (KL).

“Capaian ini berkontribusi pada penghematan devisa sebesar Rp 38,31 triliun atau sekitar US$ 2,66 miliar. Sementara pemanfaatan biodiesel domestik tahun 2021 ditargetkan sebesar 9,20 juta KL,” jelas Dadan.

Penyerapan biodiesel sepanjang tahun 2020 terjadi penurunan sampai 12 persen dari alokasi yang telah ditetapkan. Hal ini terjadi akibat pandemi Covid-19 dan penurunan konsumsi solar. Realisasi penyerapan biodiesel pada tahun 2020 mencapai 8,40 juta KL dari alokasi yang ditetapkan sebesar 9,55 juta KL.

“Dibandingkan dengan target purchase order (PO), realisasi penyerapan biodiesel tahun 2020 hanya mencapai 90,08 persen dari target PO sebesar 9,33 juta KL,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here