Proyek pengembangan lapangan gas Buntal-5 di Laut Natuna oleh Medco EP Natuna Ltd. yang memberikan tambahan produksi gas 45 MMSCFD. Salah satu proyek hulu migas yang onstream pada Kuartal I-2020.

Jakarta, Petrominer – Kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) di tahun 2019 masih merugi. Pasalnya, laba bersih dari segmen minyak, gas dan kelistrikan tidak mampu menutupi kerugian di Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Meski begitu, kinerja tersebut masih lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2019, MedcoEnergi mencatat rugi bersih sebesar US$ 27 juta. Kinerja ini lebih baik dibandingkan rugi bersih tahun 2018 yang mencapai US$ 51 juta. Laba bersih dari segmen minyak, gas dan kelistrikan diimbangi dengan rugi yang lebih besar di Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sebesar US$ 49 juta.

“Kinerja tahun lalu didominasi oleh keberhasilan akuisisi Ophir Energy plc.,” ujar CEO MedcoEnergi, Roberto Lorato, dalam siaran pers yang diterima Petrominer, Kamis (21/5).

Sampai akhir 2019, EBITDA konsolidasi tercatat sebesar US$ 660 juta, pro forma Ophir US$ 802 juta. Sementara laba kotor konsolidasi US$ 592 juta, pro forma Ophir US$ 667 juta.

“Hutang Bersih terhadap EBITDA1 3,4x, pro forma1 Ophir 2,8x. Likuiditas yang kuat dengan kas dan setara kas US$ 596 juta,” jelasnya.

Sementara dari sisi operasional, MedcoEnergi mencatat produksi minyak dan gas sebesar 103 mboepd, pro forma Ophir 115 mboepd. Kinerja ini dibarengi dengan biaya per unit minyak dan gas US$ 9,3 per boe. Sementara penjualan tenaga Listrik Medco Power mencapai 2.600 GWh.

Untuk tahun 2020, Roberto menegaskan bahwa hal utama yang akan diingat adalah penyebaran global Covid-19 dan jatuhnya harga minyak. “Respons cepat yang MedcoEnergi lakukan dalam menghadapi tantangan baru ini adalah penerapan protokol ketat untuk memastikan kesejahteraan pekerja kami, serta penangguhan dan efisiensi pengeluaran sebesar lebih dari US$ 200 juta untuk menjaga kas dan mendukung neraca perusahaan.”

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa dengan pengurangan pengeluaran sebesar US$ 200 juta, maka panduan untuk tahun 2020 adalah produksi minyak dan gas sebesar 100 – 105 mboepd, dengan biaya tunai per unit di bawah US$ 10 per boe. Sementara belanja modal total di bawah US$ 240 juta.

Berikut ringkasan kinerja MedcoEnergi tahun 2019:

Keuangan

  • EBITDA US$ 660 juta, Laba Kotor US$ 592 juta dengan EBITDA Pro forma Ophir sebesar US$ 802 juta
  • Akuisisi Ophir secara langsung menambah EBITDA tujuh bulan sebesar US$ 131 juta setelah dikurangi dengan biaya akuisisi tak berulang sebesar US$ 35 juta dan biaya integrasi US$ 10 juta. Pro forma Ophir EBITDA adalah US$ 238 juta. Sinergi tahunan yang berulang dari akuisisi ini akan di atas US$ 50 juta.
  • Rugi Bersih sebesar US$ 27 juta (Rugi Bersih 2018 US$ 51 juta), dimana laba bersih dari segmen minyak dan gas dan kelistrikan diimbangi dengan rugi yang lebih besar di Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sebesar US$ 49 juta.
  • Belanja modal adalah US$ 313 juta, pro forma US$ 356 juta, sesuai dengan panduan.
    Menyelesaikan penjualan beberapa aset non-inti, termasuk Tunisia, Mexico Block 5, melaksanakan monetisasi pinjaman pemegang saham AMNT dan diikuti dengan dilusi lanjutan kepemilikan di AMNT pada tahun 2019 dan tahun 2020.
  • Likuiditas tetap kuat dengan kas dan setara kas sebesar US$ 596 juta, dengan dana pembayaran obligasi rupiah yang akan jatuh tempo untuk tahun 2020 dan tahun 2021 sudah tersedia di escrow.
  • Peringkat kredit baru-baru ini ditetapkan kembali di level B+ dari Fitch, B+ dari Standard & Poor, B1 dari Moody’s dan A+ dari Pefindo.
  • Rasio Hutang Bersih terhadap EBITDA1 adalah 3,4x, pro forma 2,8x dan di bawah target Hutang Bersih terhadap EBITDA1 3,0x. Hutang Bruto1 adalah US$ 2,5 miliar.

Operasional

  • Produksi minyak dan gas 103 mboepd, 115 mboepd pro forma Ophir.
  • Biaya tunai per unit US$ 9,3 per boe, lebih rendah dari acuan Perusahaan.
  • Menyelesaikan pengembangan baru di Bualuang, Thailand dan Temelat, Sumatera Selatan dan pengembangan sub-sea Buntal-5, Blok B Natuna Selatan. Kemajuan pengembangan gas Meliwis di Jawa Timur telah mencapai 90 persen pada Mei 2020 dan first-gas diperkirakan sesuai target pada pertengahan tahun ini.
  • Menyelesaikan dengan sukses pengeboran sumur eksplorasi Bronang-2 di Blok B, Natuna Selatan.
  • Medco Power menghasilkan penjualan listrik 2.600 GWh, turun 4 persen Year on Year karena adanya pemeliharaan tidak terjadwal di Sarulla Geothermal, Sumatera Utara.
    Kemajuan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Combined Cycle Riau 275MW mencapai 76 persen, dan sesuai target untuk beroperasi pada tahun 2021.
  • Medco Power menandatangani dua kontrak Operasi & Pemeliharaan baru dengan PLN di Sulut-1, Sulawesi Utara dan Timor-1, Nusa Tenggara Timur.
  • Medco Power juga memenangkan tender untuk membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga Surya (PV) dengan kapasitas 2x25MWp di Bali, sementara fasilitas PV dengan kapasitas 26MWp di Sumbawa sudah memulai konstruksi.
  • Produksi AMNT dari stockpile adalah 130,3 Mlbs tembaga dan 56 Koz emas. AMNT terus melanjutkan pengembangan fase 7 dengan produksi pertama pada pertengahan 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here