
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam pencapaian target produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Afiliasi dari subholding upstream Pertamina ini juga siap menjawab tantangan energi masa depan dengan pendekatan yang aman, profesional, efisien, dan berkelanjutan.
Pertamina Drilling ambil bagian penting dalam proyek pengeboran di blok Cepu, Jawa Timur. Hal ini menyusul pengeboran tujuh sumur baru di lapangan Banyu Urip yang dikerjakan lebih cepat dari jadwal. Proyek yang dikenal sebagai Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) ini berhasil diselesaikan 10 bulan lebih awal.
Pekerjaan pengeboran tersebut menggunakan rig PDSI#40.3. Rig buatan anak bangsa ini memainkan peran strategis dalam mendukung proyek di lapangan minyak terbesar Indonesia saat ini. Produksi minyak lapangan Banyu Urip, yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), meningkat dari 150 ribu barel per hari (bph) menjadi 180 ribu bph. Produksi ini menyumbang lebih dari 25 persen dari total produksi minyak nasional.
“Rig kami, PDSI#40.3, adalah rig canggih hasil karya anak bangsa yang dirancang dan dibuat sepenuhnya di Indonesia. Rig ini terbukti efisien, bahkan di lokasi sempit dan kompleks seperti Banyu Urip,” ujar Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, Jum’at (11/7).
Penggunaan Rig PDSI#40.3 tidak hanya mempercepat waktu kerja. Tetapi juga memastikan standar keselamatan, kualitas, dan efisiensi operasional tetap terjaga. Penyelesaian lebih cepat ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi pengeboran nasional mampu bersaing dan berkontribusi secara signifikan terhadap ketahanan energi Indonesia.
Offshore
Tidak hanya di daratan (onshore), ungkap Avep, Pertamina Drilling juga mencatat kinerja impresif di lepas pantai (offshore). Utamanya sepanjang satu tahun operasionalnya di Laut Jawa dalam proyek pengeboran lepas pantai yang menggunakan rig jack-up Emerald Driller. Rig ini merupakan bagian dari hasil strategic alliance antara Pertamina Drilling dengan ADES Group, perusahaan penyedia jasa rig jack-up terbesar di dunia.
Sebagai lead contractor dalam offshore drilling campaign ini, Pertamina Drilling membuktikan kapabilitasnya dalam memimpin operasi pengeboran lepas pantai secara profesional, aman, dan berkelanjutan. Proyek ini dimulai pada 22 Juni 2024 dengan pengeboran sumur pertama TITI-A17, dan berhasil menyelesaikan pengeboran pada sumur ke-9, WIDURI B-09ST, pada 25 Mei 2025. Saat ini, Emerald Driller tengah melanjutkan pengeboran pada sumur ke-10, WIDURI H-18.
“Dengan kekuatan 3.000 horsepower dan kemampuan mengebor hingga kedalaman 30.000 kaki, Emerald Driller menjadi salah satu rig andalan dalam operasi pengeboran lepas pantai di Indonesia,” paparnya.
Dari sembilan sumur yang telah diselesaikan, tercatat Pertamina Drilling berhasil menghemat biaya operasional hingga 15 persen dari anggaran yang telah dialokasikan. Efisiensi ini menunjukkan penerapan manajemen proyek yang efektif serta pemanfaatan teknologi dan sumber daya secara optimal.
Menurut Avep, rig ini juga menjadi bagian dari upaya nasional dalam mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD). Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat sinergi internasional, tetapi juga menunjukkan posisi Pertamina Drilling sebagai pemain utama dalam mendukung pengembangan energi nasional.
“Kami berkomitmen penuh untuk mendukung pencapaian target produksi migas nasional melalui operasi pengeboran yang andal dan efisien. Lebih dari itu, kami menjadikan aspek ketahanan energi, swasembada energi, serta keselamatan operasional sebagai fondasi utama dalam setiap kegiatan kami,” tegasnya.
























