Maryke Pulunggono bersama anak-anak Agats, Asmat, Papua Barat, saat mengunjungi mereka untuk memberi bantuan berupa buku dan peralatan sekolah akhir tahun 2019 lalu.

Jakarta, Petrominer – Masa Pensiun merupakan saat menikmati hasil kerja sekaligus kebebasan. Ini adalah tahap hidup yang dinantikan banyak orang. Pasalnya, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan agar tetap bersemangat.

Masa inilah yang kini sedang dilakoni oleh Maryke Pulunggono. Sejak 1 Oktober 2019 lalu, dia mulai memasuki masa pensiun dari PetroChina. Hari-hari yang biasanya penuh terisi kesibukan dengan rutinitas pekerjaan, kini berubah total. Wanita kelahiran Fakfak, Papua Barat, 58 tahun lalu ini mengaku sering melewatkan waktunya bersama teman-teman, ngobrol dan makan bareng.

“Kini, ada banyak kegiatan yang bisa aku lakukan. Bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, seperti belajar memasak. Masa purnabakti ini memberiku kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan melakukan sesuatu yang berguna, yang menjadi berkat bagi sesama,” ungkapnya dalam acara makan siang di kediamannya di daerah Kebayoran Baru, Kamis (27/2).

Kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak sempat dikerjakan, kini mulai dilakukan. Mulai dari membersihkan rumah, merawat kebun dan kegitan apa saja yang menjadi hobinya. Maryke pun mulai menjadwalkan perjalanan wisata ke luar negeri.

“Hobiku travelling itu selama dua tahun terakhir sempat terhenti,” ujar Alumni Teknik Geologi Universitas Trisakti Jakarta ini.

Karena itu, tidaklah heran jika beberapa hari usai menerima Surat Keputusan Pensiun, dia melakukan perjalanan ke luar maupun dalam negeri. Beberapa negara di Asia Tengah pun dikunjungi, mulai dari Azerbaijan, Armenia dan Georgia hingga China. Tujuan utamanya adalah tempat-tempat yang selama belum pernah dikunjungi.

Sementara di dalam negeri, tujuan utamanya adalah Papua. Kunjungan ini sekaligus dimanfaatkan untuk mencari dan bertemu teman-teman masa kecil. Pasalnya, hampir 50 tahun tidak bertemu dengan mereka.

Maryke juga sempat mengunjungi Asmat. Dalam perjalanan ke Agats, sebuah distrik di Kabupaten Asmat, dia mencoba mendalami kegitan sosial yang dilakukan oleh sepupunya.

Di sinilah, wanita yang akrab disapa Rose ini mulai memahami beratnya medan kerja dan cara kerja yang dialami oleh para tenaga kerja sosial. Hal ini menggugahnya untuk ikut membantu, tentu dengan cara dan kemampuannya sendiri.

“Komunikasi ku dengan mereka di sana berlanjut. Dengan sedikit informasi yang didapat, aku mencoba menghubungi beberapa teman untuk ikut membantu anak-anak di sana dalam bidang pendidikan,” ujar anak kesembilan dari 12 bersaudara yang lahir dengan nama Ang Siu Lang.

Pengalaman inilah yang memberinya semangat untuk memulai kegiatan sosial. Dia pun merangkul beberapa teman untuk ikut memikirkan apa yang bisa dilakukan lagi untuk membantu.

“Mengenal anak-anak di Agats telah memunculkan keinginan untuk bisa melakukan lebih banyak hal untuk membantu mereka,” ungkapnya.

Wanita yang selalu tampil dengan busana berwarna pink ini pun berharap kegiatan tersebut menjadi awal yang baik dalam mengisi masa pensiunnya. Dia pun kini mulai menjalani masa pensiunnya dengan lebih bersemangat

Pensiun dan berakhir dengan baik, itulah dambaan semua orang. Pensiun dan jangan takut, yang penting masih bisa bersilaturahim dengan teman-teman,” tegas Maryke.

Selain mulai mengisi masa pensiunnya dengan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Maryke juga mencoba berbagi pengalaman masa kecil dan karirnya di industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional. Apalagi, dia mengaku banyak mendapat pengalaman berharga selama 32 tahunnya berkarir di industri hulu migas nasional.

“Rose dari Fakfak, Maryke Pulunggono,” bercerita tentang jejak perjalanan hidup dan karir Maryke di industri hulu migas nasional.

Cara berbaginya adalah dengan menuangkan sebagian ceritanya tersebut dalam sebuah karya buku berjudul “Rose dari Fakfak, Maryke Pulunggono”.

Buku ini menceritakan jejak perjalanan hidupnya sejak dari kehidupan masa kecil di Fakfak. Saat menjelang remaja lalu pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah menengah dan kuliah di jurusan Geologi, hingga menikah dan meniti karir di industri hulu migas.

“Hampir separuh perjalanan hidupku, praktis telah kuhabiskan untuk berkarya di lingkungan industri hulu migas Indonesia. Mulai sebagai geologist sampai Vice President Human Resources & Relations. Karena itu, teramat sayang bila pengalaman pahit manis dalam menapaki karir ini tidak kubagikan kepada orang lain,” ujar Maryke.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here