Aktivitas pekerja di pelabuhan khusus tambang PT Citra Lampia Mandiri di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. (CLM)

Jakarta, Petrominer – Tren kenaikan harga nikel global tentunya berdampak positif terhadap harga patokan mineral (HPM) nikel di Indonesia. Kinerja ini membuat para pelaku usaha tambang nikel kian optimis terhadap masa depan industri nikel di Indonesia.

Seperti disampaikan Direktur Utama PT Citra Lampia Mandiri (CLM), Helmut Hermawan, Senin (31/10). Perusahaan tambang yang menjadi bagian dari Lampia Group ini mengelola tambang nikel di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Helmut memaparkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, harga nikel di bursa perdagangan London Metal Exchange (LME) terus memperlihatkan tren kenaikan. Dampaknya, Harga Patokan Mineral (HPM) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan rata-rata harga di LME tiga bulan ke belakang juga ikut meningkat.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Mineral Acuan (HMA) Nikel bulan Oktober 2022 sebesar US$ 22.081,25 per dmt. Harga itu lebih tinggi dibandingkan HMA nikel di bulan September yang sebesar US$ 22.059,13 per dmt.

“Kami yakin masa depan nikel akan semakin cerah. Dan kita punya peluang besar untuk merebut pemenuhan kebutuhan dunia karena Indonesia memiliki lebih dari setengah cadangan dunia. Sekitar 150 juta ton,” ungkapnya.

Tak hanya terbesar dari sisi volume, penyebaran cadangan nikel di Indonesia juga paling besar di dunia.  Di Indonesia, 90 persen cadangan nikel tersebar mulai dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara hingga Maluku Utara.

Helmut menjelaskan, tiga besar penghasil nikel dunia berada di Sulawesi. Beberapa daerah Sulawesi yang berkembang menjadi lokasi pertambangan nikel antara lain Kolaka (Sulawesi Tenggara), Morowali (Sulawesi Tengah) dan Luwu Timur (Sulawesi Selatan). Daerah yang disebut terakhir adalah lokasi CLM beroperasi dan juga merupakan kabupaten penghasil nikel terbesar di dunia.

Sementara di Maluku, daerah tambang nikel antara lain terdapat di Halmahera (Maluku Utara) dan Pulau Ternate. Cadangan nikel juga meluas sampai ke Papua, yang lokasi tambangnya antara lain terdapat di Pulau Gag.

Selain terbesar dari sisi volume, kualitas nikel di Indonesia juga terbaik di dunia. Nikel kelas satu sangat dibutuhkan untuk pengembangan baterai mobil listrik untuk campuran jenis logam cobalt.

Meski permintaan nikel dari segmen baterai ini belum terlalu besar, namun segmen kendaraan listrik (electric vehicle) yang diperkirakan bakal tumbuh cepat akan memicu naiknya permintaan nikel kelas satu dari Indonesia. Menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency – IEA), kendaraan listrik saat ini menyumbang 2 persen lebih dari penjualan mobil global, dan akan menjadi 58 persen di tahun 2040 mendatang.

Biji nikel berkadar tinggi sangat dibutuhkan untuk industri pengolahan atau smelter di Indonesia.  Selain itu, nikel juga merupakan bahan baku penting bagi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan salah satu bahan baku baja tahan karat (stainless steel). Saat ini, serapan nikel untuk kebutuhan industri stainless steel tercatat masih tertinggi di Indonesia.

Selain berkadar tinggi, perusahaan listrik juga sangat butuh nikel dalam kadar rendah. Nikel kategori ini menjadi bahan baku pembuatan suku cadang mesin, kabel dan lain-lain.

 “Pendek kata kebutuhan nikel sangat intensif dalam perkembangan industri hulu sampai hilir. Karena itulah kami sangat optimis terhadap masa depan nikel Indonesia,” ujar Helmut.

Komoditas strategis

Saat ini, menurutnya, nikel menjadi salah satu sumber daya mineral yang menjadi komoditas strategis di pasar global. IEA memproyeksikan, permintaan nikel di pasar global akan terus meningkat seiring dengan penguatan tren pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

“Dalam laporannya di Southeast Asia Energy Outlook 2022, IEA memprediksi permintaan nikel untuk keperluan teknologi energi bersih akan berkembang pesat sampai 20 kali lipat selama periode 2020 sampai 2040,” ujar Helmut.

 Khusus untuk kawasan Asia Tenggara, IEA menyebutkan bahwa nilai penjualan sumber daya nikel pada tahun 2020 baru mencapai US$ 15,2 miliar. Namun pada tahun 2030, nilainya diproyeksikan naik dua kali lipat lebih menjadi US$ 36,6 miliar, dan meningkat lagi menjadi US$ 40,8 miliar pada tahun 2050.

Sejauh ini, konsumen nikel terbesar adalah negara China. Mengacu data Statista, permintaan nikel China pada tahun 2020 lalu mencapai 1,31 juta ton. Sementara permintaan nikel global yang pada tahun lalu mencapai 2,78 juta ton, seperti ditulis menurut International Nickel Study Group (INSG), diperkirakan akan meningkat menjadi 3,02 juta ton tahun ini.

“Menurut INSG, peningkatan itu antara lain ditopang oleh perluasan produksi baterai global untuk memasok kendaraan listrik beberapa tahun mendatang,” jelas Helmut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here