,

Ini 5 Aksi Nyata SCG untuk Lingkungan dan Masyarakat

Posted by

Jakarta, Petrominer – SCG memiliki komitmen ESG 4 Plus yang menjadi kerangka kerja seluruh operasi bisnisnya guna menciptakan dampak positif dan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat. Salah satunya adalah merangkul generasi muda dalam menciptakan solusi bagi permasalahan di masyarakat yang sesuai dengan minat dan keterampilan mereka.

Presiden Direktur PT SCG Indonesia, Chakkapong Yingwattanathaworn, mengatakan program beasiswa SCG Sharing the Dream yang dilaksanakan sejak tahun 2012 menjadi gerbang untuk merangkul para generasi muda. SCG memperkenalkan konsep ekonomi sirkular dan Environmental, Social, and Governance (ESG), dan menyertakannya pada rangkaian program sehingga kesadaran generasi muda untuk menciptakan perubahan di masyarakat semakin kuat, yang akhirnya mendorong mereka menciptakan berbagai inisiatif.

“Tugas kami adalah mendukung dan mendampingi mereka agar rencana tersebut dapat terealisasi dan menciptakan dampak yang berkelanjutan di masyarakat,” ujar Chakkapong, Selasa (14/2).

Sejumlah kolaborasi SCG bersama generasi muda pun dilakaukan melalui berbagai inisiatif. Pertama, Budidaya Maggot Kebonmanggu (BMK). Program memanfaatkan sampah sisa makanan sebagai medium budidaya maggot yang dapat mengolah sampah menjadi pakan ternak dan pupuk organik yang bermanfaat bagi peternak dan petani. Program ini digagas oleh para mahasiswa IPB penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2022.

Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk pengelolaan sampah organik sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan masyarakat setempat. Program ini juga bisa membantu Pemerintah Kabupaten Sukabumi mencapai target pengurangan sampah 30 persen dan penanganan sampah 70 persen pada tahun 2025.

Penyerahan bantuan paket Budidaya Ikan dalam Ember Rumah Tangga (Budikdamber Ruta) kepada perwakilan warga di Perumahan Graha Mustika, Setu, Kabupaten Bekasi, pada 27 Nopember 2022.

Kedua, Gerakan Sembuhkan Bumi (Gembumi). Gembumi adalah program pemulihan lingkungan yang diusung oleh M. Taqiyudin Ibadurrahman, siswa SMAN 1 Cileungsi sekaligus penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2022.

Dengan dukungan anak perusahaan SCG, PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk (KIA Ceramics), program ini memiliki dua agenda utama yaitu seminar edukasi untuk membangun kesadaran anak muda dalam menjaga lingkungan dan aksi penanaman 346 tanaman yang membutuhkan waktu 3-10 bulan untuk tumbuh. Aksi ini sejalan dengan advokasi ESG 4 Plus SCG untuk mencapai net zero emission di tahun 2050.

Ketiga, Budidaya Ikan dalam Ember Rumah Tangga (Budikdamber Ruta). Shintiany Wulandari Darusman, siswi SMK Mitra Industri MM2100, Bekasi sekaligus penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2022, mengusung program budidaya ikan lele dan kangkung dalam ember untuk masyarakat Kecamatan Setu, Bekasi dan didukung oleh PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FajarPaper) selaku anak usaha SCG di lini bisnis packaging (kemasan).

Kegiatan budidaya biasanya membutuhkan lahan serta biaya yang besar, namun, dengan ide ini, masyarakat dapat memulai budidaya pada lahan perumahan yang terbatas. Kangkung dapat dipanen seminggu sekali, sementara ikan lele mencapai tiga bulan sekali.

Keempat, Retote Project – Olah Limbah Tekstil Menjadi Barang Fashion. Proyek ini diusung oleh Tim Niracle yang terdiri dari sepuluh mahasiswa penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2018. Dilaksanakan di Desa Padasuka, Kabupaten Bandung yang mayoritas penduduknya bekerja memproduksi tekstil dan menghasilkan sampah tekstil hingga 22 ton per hari.

Para mahasiswa ini bekerja sama dengan karang taruna untuk memberikan edukasi kepada warga untuk membuat tote bag, dompet, hingga pernak-pernik dari limbah tekstil yang ada. Edukasi tersebut merupakan cerminan dari prinsip Ekonomi Sirkular (Make – Use – Return) yang diharapkan dapat menanggulangi limbah tekstil yang biasanya dibuang dan dibakar. Proyek ini dipresentasikan oleh Tim Niracle di ajang ASEAN Camp 2019 di Thailand.

Tim Niracle mengikuti dan mempresentasikan Retote Project pada acara ASEAN Camp 2019 di Bangkok, Thailand, pada 26 Agustus 2019.

Kelima, PARASOL – Panel Surya Alternatif dari Limbah Plastik. Proyek pembuatan panel surya alternatif dari limbah plastik PET (Polietilena Tereftalat) seperti yang terdapat pada botol bekas. Proyek ini digagas oleh tiga mahasiswa Universitas Indonesia yang menjadi Juara Umum dalam kompetisi ESG “Hacks to Heal Our Planet: ESG Idea Pitching” yang digelar SCG secara regional pada Juli 2022 lalu dan berhasil unggul dari negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Filipina, Myanmar, dan Vietnam.

Jika dibandingkan dengan panel surya umum, biaya investasi untuk PARASOL diperkirakan 16 kali lebih rendah dan biaya perawatan diperkirakan 8 kali lebih rendah. Listrik dari PARASOL dapat dimanfaatkan untuk penerangan dan instalasi kebun hidroponik sehingga dapat mengurangi konsumsi energi listrik konvensional.

“Gerakan multi-program ini merupakan wujud komitmen sinergis kami dalam menyeimbangkan kegiatan operasional melalui upaya pemulihan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat. Maka dari itu, kami secara konsisten merangkul kolaborasi dengan generasi muda yang menjadi roda penggerak masa depan,” ujar Chakkapong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *