Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Pemerintah Inggris meluncurkan program MENTARI: Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia. Program kemitraan ini bertujuan untuk mendukung pemulihan ekonomi yang ramah lingkungan di Indonesia.

Program ini secara resmi diluncurkan dalam acara diskusi secara virtual, Kamis (30/7). Acara diskusi dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial. Dalam kesempatan itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Owen Jenkins, juga tampil sebagai salah satu panelis.

Dalam kesempatan itu, Ego menyampaikan bahwa komitmen Pemerintah mengurangi emisi dan sekaligus mewujudkan akses energi ke masyarakat akan selalu mempertimbangkan aspek lingkungan sehingga pemanfaatannya bisa berkelanjutan (sustainability).

“Komitmen Indonesia mengurangi emisi hingga 29 persen di tahun 2030 adalah upaya menuju energi bersih. Untuk mencapai hal tersebut, saat ini sedang dipersiapkan Peraturan Presiden tentang Feed in Tariff untuk menggenjot pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) khususnya di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal),” tegasnya.

Menurutnya, langkah konkret yang diambil Pemerintah adalah dengan mengkonversi pembangkit-pembangkit listrik berbasis fosil yang menghasilkan emisi tinggi dengan pembangkit berbasis EBT. Berdasarkan hasil inventarisasi Kementerian ESDM, ada 2.246 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), 23 unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan 46 Pembangkit Listrik tenaga Gas Uap (PLTGU) yang akan dikonversi dalam waktu tiga tahun.

“Untuk PLTD yang dikonversi berusia lebih dari 15 tahun. Sementara PLTU dan PLTGU lebih dari 20 tahun,” tutur Ego.

Terkait Program Mentari, dia menjelaskan bahwa program kemitraan ini akan berjalan dari tahun 2020-2030. Ini merupakan salah satu terobosan penting dari implementasi transisi energi guna menstimulus perekonomian Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

“Kehadiran MENTARI ini sangat tepat. Kami optimis program ini mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta menekan kemiskinan melalui pengembangan sektor energi terbarukan,” tegasnya.

Kementerian ESDM menyambut baik kerjasama ini, mengingat Pemerintah Inggris sudah lebih berpengalaman dalam pengembangan energi terbarukan. Inggris dinilai sebagai negara tersukses di dunia yang berhasil mengurangi porsi energi fosil secara drastis sejak pandemi berlangsung.

Bahkan di bulan Juli 2020 ini, Pemerintah Inggris telah menggelontorkan dana senilai Rp 73 triliun untuk sektor EBT guna menstimulus pertumbuhan ekonomi domestik.

“Ini bukti komitmen kami terhadap energi berbasis ramah lingkungan, menciptakan lapangan kerja, serta mengembalikan aktivitas perekonomian,” ujar Jenkins.

Sejalan dengan langkah tersebut, dia menilai Indonesia juga punya potensi besar menjadi salah satu negara terbesar di dunia dalam pengembangan EBT di masa mendatang. Apalagi sektor tersebut baru digarap 2,4 persen atau 10 Giga Watt (GW) dari total kapasitas untuk dikonversi menjadi listrik sebesar 442 GW.

“Indonesia memiliki peluang menjadi negara adidaya di sektor energi terbarukan. Apalagi kita tengah menghadapi tantangan pemulihan ekonomi global berbasis lingkungan (green economy) dan telah memasuki masa kritis dalam melawan perubahan iklim. Saya senang Inggris bermitra dengan Indonesia melalui program Mentari dalam mendukung transisi energinya,” ungkap Jenkins.

Dalam kemitraan tersebut, Inggris akan berbagi pengalaman dalam menyiapkan kerangka regulasi di seputar EBT yang bermuara pada pembentukan ikilm bisnis yang lebih baik serta mendorong keterlibatan swasta dalam proyek-proyek EBT baik on-grid maupun off-grid terutama di Indonesia Timur.

Selain bantuan teknis, mitra usaha (match-making), pengetahuan, dan inovasi, program ini akan fokus pada peningkatan kapasitas listrik di proyek mikro grid serta membangun hubungan dagang EBT di tingkat domestik maupun internasional.

“Ini fase baru bagi Indonesia dalam menjalankan transisi energi. Selain mengurangi emisi dan melindungi lingkungan, pemanfaatan EBT akan meningkatkan ketahanan energi dan membangun sistem listrik yang andal dengan biaya terjangkau,” tutup Jenkins.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here