PanelJakarta, Petrominer – Kecenderungan ekonomi global yang bergerak ke ekonomi hijau telah menciptakan banyak peluang ekonomi. Sebaliknya, Indonesia hanya akan menjadi pasar jika tidak melakukan industrialisasi hijau.
Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Tata Mustasya, menuturkan sektor industri khususnya industri manufaktur mengalami stagnasi sejak awal 2000-an, bersamaan dengan meningkatnya peran industri ekstraktif seperti batubara. Padahal, industri manufaktur bisa memainkan dua peran ganda, yakni mendukung tercapainya target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan memajukan kesejahteraan, serta mencapai target Nol Emisi 2050.
“Di sini, industrialisasi hijau menjadi kunci,” ungkap Tata, Senin (11/8).
Bagaimana caranya? Menurutnya, ada dua.
Pertama, industri manufaktur yang sudah ada harus beralih menggunakan sumber energi bersih dan terbarukan untuk menurunkan emisi.
Berdasarkan survei Powering Up: Business Perspectives on Shifting to Renewable Electricity yang baru-baru ini dirilis, sembilan dari 10 pemimpin bisnis Indonesia menginginkan adanya transisi energi, terutama untuk sektor kelistrikan, dari batubara dan bahan bakar fosil lainnya menuju energi terbarukan pada tahun 2035 atau sebelumnya. Terlebih lagi, mayoritas responden juga mempertimbangkan untuk merelokasi bisnis dan rantai pasok ke negara lainnya jika Pemerintah Indonesia gagal dalam menyediakan energi terbarukan.
Pemerintah dalam rencana umum ketenagalistrikan terbaru (RUPTL 2025-2034) sudah menetapkan pengembangan energi terbarukan yang cukup masif hingga 61persen dari total pembangkit yang akan dibangun dalam 10 tahun ke depan. Ini lebih tinggi dibandingkan RUPTL sebelumnya, yang sebesar 52 persen. Pengembangan kawasan pabrik mobil listrik di Jawa Barat juga akan didukung oleh energi bersih dan terbarukan seperti tenaga surya.
Kedua, Pemerintah harus membangun industri hijau yang sejalan dengan perkembangan ekonomi global. Misanya dengan mengambil peluang dari industri mobil dan motor listrik dan panel surya yang pasarnya terus tumbuh baik di dalam negeri maupun secara regional dan global. Industrialisasi hijau juga dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan ekspor.
“Untuk itu, desainnya harus inklusif dengan tujuan memajukan kesejahteraan,” jelas Tata.
Untuk mengembangkan industri hijau yang masif dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, Pemerintah perlu menyiapkan strategi yang komprehensif. Hal ini mencakup kebijakan fiskal dan keuangan, kebijakan sektoral dan industri seperti alih teknologi, serta keterlibatan BUMN. Kebijakan tersebut juga harus memastikan industrialisasi hijau menggunakan sumber daya alam secara efisien dan menggunakan standar lingkungan dan sosial yang ketat.
Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa industri manufaktur menjadi kunci dalam mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, yang menjadi target Pemerintahan Prabowo Subianto. Saat ini, ekonomi Indonesia masih sangat tergantung pada industri ekstraktif, konsumsi domestik, dan pengeluaran pemerintah.
“Industri ekstraktif yang mengandalkan sumber daya alam seperti batubara tidak akan mampu memajukan kesejahteraan dan tidak sejalan dengan agenda nol emisi pemerintah yang diharapkan tercapai di tahun 2050,” ujar Tata.








Tinggalkan Balasan