Jakarta, Petrominer – Pembangunan industri petrokimia perlu dilakukan terintegrasi dengan memanfaatkan teknologi up todate. Dengan begitu, produk yang dihasilkan bisa efisien dan harganya berdaya saing.
Menurut Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, hal ini penting mengingat investasi di sektor hilir itu mahal, namun bisa memberikan nilai tambah yang tinggi.
“Pembangunan industri melalui program hilirisasi termasuk di sektor petrokimia, akan berdampak luas pada peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Sigit, Kamis (22/3).
Dia juga menjelaskan, selama ini pembangunan industri petrokimia sudah cukup banyak dilakukan di sektor hulu seperti refinery. Namun, refinery tersebut belum terintegrasi sampai ke sektor hilirnya.
Contohnya refinery yang telah dibangun dan dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Mereka masih mengutamakan penggunaan bahan bakar utama dari Pertamina untuk mengolah minyak bumi, belum diarahkan pada industri petrokimia.
“Itu sebabnya kami ingin agar sektor swasta lebih banyak berinvestasi di sektor hilirnya. Kami mendorong pengembangannya ke wilayah Papua di Teluk Bintuni dan Sulawesi di Senoro Donggi, yang memiliki cadangan gas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk produksi methanol,” jelasnya.
Menurut Sigit, pada bulan Januari 2017, Pemerintah Indonesia menyaksikan serah terima MoU dari CEO of Ferrostaal, Klaus Lesker, kepada Direktur Investasi PT Pupuk Indonesia, Gusrizal di Dusseldorf, Jerman. Kerjasama tersebut menjadi langkah strategis mendukung percepatan pembangunan industri petrokimia di Teluk Bintuni, Papua Barat.
Sebagai salah satu kawasan yang memiliki sumber bahan baku bagi industri petrokimia yakni gas, yang dikelola oleh BP Indonesia, pembangunan industri petrokimia di Teluk Bintuni mempunyai beberapa alasan. Antara lain potensi gas bumi di kawasan tersebut yang sudah diidentifikasi 23,8 triliun standar kaki kubik (TSCF), dengan 12,9 TSCF sudah dialokasikan untuk 2 train liquefied natural gas (LNG), dan sisanya 10,9 TSCF untuk 1 train LNG. Selain itu, ditemukan cadangan baru sebesar 6-8 TSCF.
“Potensi gas tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku industri amonia, untuk mendukung industri urea dan bahan baku industri metanol yang akan menunjang industri pusat olefin,” jelas Sigit.
Dukung Achema 2018
Pada kesempatan tersebut, Sigit juga menuturkan, pihaknya mendukung diselenggarakanya pameran internasional Achema 2018. Pameran di bidang industri pengolahan, termasuk industri bioteknologi, produk kemasan dan fleksibel bidang petrokimia, serta industri farmasi, akan digelar di Frankfurt, Jerman, 11-15 Juni 2018.
Pameran ini diharapkan bisa menjadi satu peluang untuk mengembangkan jejaring, khususnya bagi mereka yang berkecimpung pada sektor industri kimia dan petrokimia, kimia engineering, serta produk turunannya.
Selain pameran, Achema 2018 juga diisi dengan sejumlah lokakarya dan sesi diskusi serta tukar pikiran dari 800 pakar dari seluruh dunia. Pameran yang digelar 3 tahun sekali ini akan diikui lebih dari 3.800 perusahaan dari 56 negara di dunia. Jumlah pengunjungnya diprediksi mencapai 170.000 orang dengan luas area pameran mencapai 135.000 m2.








Tinggalkan Balasan