,

Industri Farmasi dan Alkes Aplikasikan Industri 4.0

Posted by

Jakarta, Petrominer – Ketika pandemi Covid-19 menerpa Indonesia, permintaan vitamin, suplemen, dan obat-obatan penambah kekebalan tubuh meningkat. Seiring demand yang tinggi tersebut, Pemerintah telah menambahkan sektor alat kesehatan dan farmasi ke dalam prioritas Making Indonesia 4.0.

“Industri alat kesehatan dan farmasi masuk dalam kategori high demand di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, Pemerintah berupaya meningkatkan daya saing sektor industri alat kesehatan dan farmasi, dengan mendorong transformasi teknologi berbasis digital,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (14/4).

Menurut Agus, pemanfaatan teknologi digital dimulai dari tahapan produksi hingga distribusi sampai kepada konsumen. Ini artinya, industri farmasi dan alat kesehatan telah menjadi sektor strategis yang menerapkan Industri 4.0.

Untuk melihat kesiapan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, termasuk di kedua sektor tersebut, Kemenperin pun telah melakukan assessment Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).

Dalam rangkaian Hannover Messe 2021 Digital Edition, Kemenperin membagikan kebijakan percepatan implementasi Industri 4.0 di sektor farmasi dan kimia dalam sesi talkshow bertema “Navigating the Journey of 4.0 Pharmaceutical and Chemical Industry.”

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Arianti Anaya, menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan telah membuat peta jalan untuk mengakselerasi perkembangan industri farmasi dan alat kesehatan menuju Industri 4.0. Ini sejalan dengan program Making Indonesia 4.0 yang dipimpin Kementerian Perindustrian.

Menurut Arianti, peta jalan tersebut mengakselerasi perkembangan industri farmasi dan alat kesehatan, yang mencakup langkah yang harus dilalui, target perkembangan produk, serta jangka waktu. Target dari peta jalan itu adalah kemajuan industri untuk menghasilkan produk bahan baku yang berteknologi tinggi.

“Guna mewujudkan peta jalan tersebut, dibutuhkan sinergi antara stakeholders guna meningkatkan kapabilitas dari pabrik untuk memproduksi alat kesehatan yang diperlukan,” ungkapnya.

Pertumbuhan sarana produksi alat kesehatan terus meningkat. Dari 193 perusahaan di tahun 2015, telah mencapai 891 perusahaan pada tahun 2021.

“Dalam lima tahun terakhir, industri alat kesehatan dalam negeri bertumbuh 698 industri atau meningkat 361,66 persen,” jelas Arianti.

PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, yang memproduksi bahan baku obat dan bahan baku kosmetik, menjadi salah satu perusahaan penerima Award INDI 4.0 tahun 2020 dari Kemenperin. Dalam operasionalnya, perusahaan ini tengah berupaya mengimplementasikan pemanfaatan revolusi Industri 4.0.

Operation Manager Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Randy Kelana mengatakan pihaknya telah mengimplementasikan Industri 4.0 untuk konektivitas. Ini dilakukan dengan mengintegrasikan dan mengonsolidasikan anak perusahaan Kimia Farma, sehingga keputusan strategis dapat lebih cepat ditetapkan.

“Konektivitas tersebut tidak hanya untuk Kimia Farma saja, tetapi untuk semua holding farmasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” ungkap Randy.

Untuk meningkatkan efektivitas, perusahaan ini telah mengimplementasikan Internet of Things (IOT), dengan setiap sistem saling terhubung dalam jaringan. Hasilnya, tercipta kinerja yang lebih efektif dan efisien.

“Kami juga menerapkan digitalisasi untuk administrasi,” tegasnya.

Perusahaan lainnya adalah PT Schott Igar Glass. Produsen industri kaca alat-alat farmasi ini terus berupaya mendukung langkah Pemerintah untuk menjadikan industri farmasi dan alat kesehatan semakin berdaya saing pada era revolusi Industri 4.0.

Sebagai salah satu perusahaan di sektor Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (IKFT) yang memperoleh penghargaan INDI 4.0 di tahun 2020, Schott Igar Glass telah mengintegrasikan lini produksi dengan sistem Enterprise Resouce Planning (ERP) dan juga e-procurement system dengan supplier yang transparan dan data secara realtime.

Head of Supply Chain Management Schoot Igor Glass, Irawan Budi Utomo, menjelaskan bahwa perusahaan yang dipimpinnya telah memiliki business intelligent application untuk mendukung keputusan strategis. Digital e-learning juga telah diimplementasikan untuk pegawai agar bisa mengikuti pelatihan di manapun dan kapanpun.

“Memanfaatkan data di seluruh area bisnis adalah kunci mengimplementasi Industri 4.0,” kata Irawan.

Menurut data Kementerian Kesehatan, sampai tahun 2021, terdapat 271 industri formulasi farmasi, 17 industri bahan baku farmasi,132 industri obat tradisional, 18 industri ekstraksi hasil alam. Angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Produk farmasi dan alat kesehatan di Indonesia telah diekspor ke beberapa negara, seperti Belanda, Inggris, Polandia, Nigeria, Kamboja, Vietnam, Filipina, Myanmar, Singapura, Korea Selatan, serta Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *