Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Eko SA Cahyanto.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing Kawasan Industri Kendal (KIK) di Jawa Tengah agar lebih terintegrasi, sehingga menjadi daya tarik bagi para investor. Langkah ini perlu dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan terkait, seperti lintas kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Eko SA Cahyanto, menyatakan bahwa Kemenperin telah mengusulkan untuk mempercepat pembangunan KIK agar lebih berdaya saing. Hal itu dilakukan dengan beragam cara, antara lain mendorong pembangunan pelabuhan, memfasilitasi harga gas yang kompetitif, dan mempercepat revisi Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Kendal-Demak-Ungaran-Salatiga-Semarang-Purwodadi.

“Harga gas dan revisi Perpres merupakan dua prioritas yang kami usulkan untuk meningkatkan investasi di Kendal, khususnya di KIK,” ujar Eko, Rabu (9/6).

Saat ini, KIK membutuhkan gas 36,6 MMSCFD. Industri eksisting yang sudah menggunakan gas di kawasan industri itu adalah Inmas (pabrik susu kental manis) dan PT Daeyoung (perusahaan tekstil).

Daeyoung mengeluarkan biaya untuk pengadaan gas dalam bentuk LPG senilai US$ 13,8 per MMBTU atau lebih mahal dari biaya untuk manpower. Pabrik itu menggunakan gas sebagai sumber energi dalam proses dyeing. Pasokan gas didatangkan dari Jawa Timur.

Sementara kapasitas produksi perusahaan tersebut baru mencapai 60 persen dari total kapasitasnya. Apabila harga gas bisa lebih murah lagi, tentu akan meningkatkan kapasitasnya.

“Produk mereka sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan sisanya diekspor ke Vietnam,” jelasnya.

Pemerintah, ujar Eko, terus mendorong percepatan implementasi konsep industri hijau, termasuk di Daeyoung. Karena itulah, seluruh industri yang berada di KIK diharapkan dapat menikmati harga gas US$ 6 per MMBTU. Hal ini dinilai dapat memacu produktivitas dan daya saing industri tersebut.

“Untuk menjamin pasokan gas, KIK ingin adanya percepatan pembangunan pipa transmisi gas Cirebon-Semarang,” ujarnya.

Saat ini, kebutuhan eksisting gas di KIK mencapai 36,6 MMSCFD, hampir 50 persen dari kebutuhan di Jawa Tengah yang mencapai 70 MMSCFD. Malahan, kebutuhan gas di Kendal akan lebih besar jika industri-industri lain di luar KIK sudah beroperasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here