Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian memperkuat kemitraan strategis dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO). Salah satunya melalui finalisasi Indonesia–UNIDO Programme for Country Partnership (IUPCP) periode 2026–2030.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengatakan kerja sama Indonesia–UNIDO ini merupakan fondasi penting bagi diplomasi industri dan pembangunan industri nasional ke depan. Kerangka kerja sama ini diharapkan bisa menjadi platform komprehensif untuk mendukung pembangunan industri nasional, transformasi hijau, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
“Indonesia sedang mempercepat transformasi industri hijau sebagai jalur utama menuju Net Zero Emission tahun 2060, bahkan untuk NZE sektor manufaktur dipercepat menjadi 2050 dan memastikan daya saing industri di pasar global rendah karbon,” ujar Faisol usai pertemuan bilateral dengan UNIDO di Riyadh, Arab Saudi, Senin (24/11).
Pertemuan bilateral tersebut dipimpin oleh jajaran pimpinan tinggi UNIDO dan dihadiri langsung oleh Ciyong Zou, Deputy to the Director General & Managing Director, Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development, yang memimpin jalannya pembahasan sebagai pejabat tertinggi UNIDO. Pertemuan tersebut juga diikuti oleh Francesco Azzena, Project Coordinator, UNIDO Regional Bureau for Asia & Pacific.
Program kerja sama baru ini merupakan kelanjutan dari Indonesia–UNIDO Country Programme (IUCP) 2021–2025. Selama periode tersebut, berbagai kolaborasi strategis telah menghasilkan capaian konkret dalam peningkatan daya saing industri, adopsi teknologi hijau, efisiensi proses produksi, serta penguatan standar industri berkelanjutan.
Menurut Faisol, program seperti Global Eco Industrial Parks Programme (GEIPP) dan Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP) telah memberikan dampak nyata bagi sektor industri dalam periode 2021–2025. Kali ini, cakupan program kerja sama dengan UNIDO akan diperluas, baik dari sisi teknis maupun skala dukungan.
Kemenperin mencatat lima kawasan industri telah menjadi pilot project penerapan konsep eco-industrial park melalui GEIPP fase kedua, yakni Batamindo, MM2100, KIIC Karawang, Kawasan Industri Medan, dan Deltamas. Upaya ini diharapkan menjadi katalis percepatan implementasi kawasan industri hijau secara nasional.
“Finalisasi Program 2026–2030 akan memperkuat dukungan teknis UNIDO di Indonesia, tidak hanya dalam integrasi standardisasi, sertifikasi, dan penguatan ekosistem industri hijau, tetapi juga dalam memperkuat hilirisasi, rantai suplai global, transformasi digital, pengembangan kapasitas SDM, serta pengembangan kewilayahan secara menyeluruh,” jelasnya.
Saat ini, Kemenperin tengah mendorong pembentukan Eco-Industrial Park (EIP) Center di Pusat Industri Digital 4.0 sebagai pusat keunggulan, inkubasi, dan katalis transformasi kawasan industri berwawasan lingkungan di Indonesia.
Indonesia dan UNIDO juga meninjau peluang sinergi melalui BRICS Center for Industrial Competencies (BCIC), terutama dalam penguatan SDM industri, peningkatan daya saing IKM, pengembangan ekonomi sirkular, serta akselerasi transformasi digital Industri 4.0.
Wamen menekankan bahwa kerja sama ini semakin relevan di tengah tuntutan global terhadap industri rendah emisi. Industri adalah tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu, transformasi hijau bukan pilihan tetapi keharusan untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing jangka panjang.
Dia berharap cakupan wilayah program dapat diperluas di luar Pulau Jawa. Dengan begitu, dampak ekonomi GEIPP dan program lain dapat dirasakan secara merata oleh pelaku industri di berbagai daerah. Kemenperin juga tengah memfinalisasi penyusunan regulasi untuk mendukung transformasi kawasan industri hijau guna menjamin keberlanjutan implementasi standar dan sertifikasi ke depan.
“Melalui kolaborasi dengan UNIDO, Indonesia ingin memastikan bahwa transisi industri hijau memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat serta dunia usaha,” ujar Faisol.








Tinggalkan Balasan