Kegiatan pelepasliaran burung Elang Jawa dan Elang Ular Bido di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Selasa (1/6).

Jakarta, Petrominer – Memanfaatkan momentum Hari Lahir Pancasila, Indonesia Power bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melakukan pelepasliaran satwa yang identik dengan Lambang Negara, yaitu burung Elang Jawa dan Elang Ular Bido di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

“Hari ini tepat 1 juni adalah Hari Lahir Pancasila, dan hari ini kita telah melepaskan burung Elang untuk mengangkasa, Garuda ku mengangkasa untuk menjaga Indonesia!” ujar Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, dalam acara pelepasliaran satwa tersebut, Selasa (1/6).

Dalam kesempatan itu, Siti Nurbaya menyampaikan tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di Indonesia untuk kehormatan bangsa. Karena cukup dengan menjaga apa yang dipunyai sekarang dapat membuat Indonesia disegani oleh bangsa lain, termasuk dengan menjaga ekosistem di Indonesia.

“Bagaimana kita sensitif terhadap penghormatan pihak lain atau bangsa lain kepada bangsa kita bangsa Indonesia, jangan sampai ekosistem kita dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu, kita harus jaga itu,” tegasnya.

Burung Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) merupakan salah satu spesies endemik yang hanya terdapat di Pulau Jawa. Satwa yang digolongkan sebagai Elang berukuran sedang ini dianggap identik dengan lambang Negara Republik Indonesia, yaitu Burung Garuda.

Sejak tahun 1992 burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia melalui keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga nasional, sebagai wakil satwa langka dirgantara. Sedangkan Elang Ular-Bido (Spilornis Cheela) juga sama seperti keluarga burung pemangsa Accipitridae lainnya, yang merupakan salah satu spesies puncak pada rantai makanan di dalam sebuah kawasan hutan. Keluarga satwa ini juga dilindungi menurut Undang-Undang No tahun 1990 yang dipertegas dalam PP No 7 tahun 1999.

Kegiatan ini merupakan program berkelanjutan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Indonesia Power terkait biodiversity yang dilakukan sejak akhir Desember 2011. Bekerja sama dengan Suaka Elang, Indonesia Power melakukan pemetaan konservasi keanekaragaman hayati di sekitar Kawasan Kamojang dan Gunung Salak.

Kemudian didapati kesimpulan bahwa dahulu kawasan tersebut mempunyai potensi sebagai tempat berkembang biak satwa langka tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan beberapa perubahan, sekarang ini jarang dijumpai burung Elang yang terbang di atas wilayah tersebut.

Atas dasar hasil pemetaan itu, maka pada tahun 2012, secara resmi Indonesia Power memulai Program Konservasi Biodiversity dengan tagline Indonesia Power Raptor Protector. Diawalai dengan melakukan adopsi empat ekor burung Elang yang bekerjasama dengan Suaka Elang. Sebagai bentuk Apresiasi dari Suaka Elang saat itu, Indonesia Power mendapat kehormatan untuk memberikan nama pada burung Elang yang diadopsinya, yaitu El Zado (Elang Jawa Indonesia Power), Elang Brontok diberi nama El Bondo (Elang Brontok Indonesia Power), Elang Ular Bido dinamai Elin (Elang Bido Indonesia Power) dan yang terakhir diberi nama si Ojang (yang akan dilepasliarkan di kawasan Kamojang).

Berlanjut dari pengadopsian satwa tersebut, Indonesia Power telah melakukan beberapa hal untuk satwa Elang yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Melalui salah satu subunit yang ada di gunung Salak, yaitu PLTP Gunung Salak, Indonesia Power melaksanakan Program Pelestarian Keanekaragaman Hayati.

Salah satunya ikut melakukan kegiatan rehabilitasi atau perawatan rutin di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) yang telah dilakukan sejak Juli 2019, pemasangan beberapa fasilitas penunjang untuk keberlangsungan Satwa Elang di PSSEJ dan yang terakhir dan menjadi tujuan utama pelestarian satwa yaitu Pelepasliaran Satwa Elang.

Tidak hanya melakukan pelepasliaran, secara berkala juga dilaksanakan monitoring terhadap kawanan Elang tersebut (Indonesia Power Nest Protector). Sejak tahun 2016-2021, Indonesia Power telah melakukan pelepasliaran satwa Elang secara berturut-turut, baik itu Elang Jawa, Elang Brontok maupun Elang Ular Bido.

Melalui program ini, anak usaha PLN di bidang pembangkitan tersebut ikut berkontribusi sebesar 30 persen dalam peningkatan Indek Kinerja Utama (IKU) Populasi Elang di Indonesia. IKU merupakan Program Pemerintah melalui Kementerian LHK dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE) yang dalam program tersebut menargetkan populasi Elang Jawa di alam bebas meningkatkan sebanyak 10 persen setiap tahunnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here