San Fransisco, Petrominer — Indonesia dipilih sebagai salah satu dari 10 negara anggota Komite Pengarah Mission Innovation (MI). Ini menunjukkan betapa tingginya kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia dalam mendorong agenda pembangunan energi bersih global.

Rapat Pleno Pertemuan I Tingkat Menteri tentang Mission Innovation (MI) yang berlangsung di San Fransisco, Rabu (1/6), memutuskan terbentuknya Komite Pengarah MI. Komite tertinggi yang terdiri dari 10 negara ini ditugasi memberikan arahan strategis bagi inovasi dan pengembangan energi bersih ke depan. Selain Indonesia, anggota komite lainnya adalah Kanada, Perancis, India, Meksiko, Saudi Arabia, Swedia, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

MI dideklarasikan di Paris pada Pertemuan Tingkat Tinggi Perubahan Iklim 2015 atau Conference of the Parties ke-21 (COP 21). MI diikhtiarkan sebagai gerakan global yang mendorong revolusi dalam inovasi dan pengembangan energi bersih. Presiden Joko Widodo hadir dalam deklarasi MI itu.

“Ini menunjukkan betapa tingginya kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia dalam mendorong agenda pembangunan energi bersih global. Indonesia memiliki peran strategis dalam mengemban amanah Komite Pengarah MI,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, dalam pernyataan tertulis yang diterima Petrominer, Kamis (2/6).

Menurut Sudirman, selain merepresentasikan kepentingan Asia Tenggara, strategisnya Indonesia itu karena bisa memainkan peran sebagai penjembatan, yakni antara kepentingan negara maju dengan negara berkembang, serta antara negara yang bergantung pada energi fosil dengan yang bergantung pada energi terbarukan.

Melalui forum ini, Indonesia juga akan mendorong kerjasama bisnis-ke-bisnis (B2B) antara industri nasional dan industri global dalam rangka mempercepat pengembangan energi bersih. Indonesia, melalui Pusat Unggulan atau Center of Excellence-nya, akan terus memanfaatkan teknogi yang berkembang secara revolusioner bagi pengembangan energi bersihnya.

Dalam pertemuan perdana itu, disepakati tiga poin kunci MI, yakni:
1. Terbangunnya “Kerangka Kerja MI” yang didukung penuh oleh semua anggota,
2. Terjalinnya komunikasi yang semakin intens antara pemerintah dan swasta dalam kemitraan membangun energi bersih, serta
3. Tersiapkannya sebuah peta-jalan yang menentukan teknologi maupun investasi kunci yang dapat dimobilisasi untuk mendorong pengembangan MI di segenap tingkatan.

Kerangka Kerja

Rapat pleno juga menyepakati “Kerangka Kerja MI”. Di dalamnya, termaktub Misi dan Panca Aksi Utama Gerakan MI.

Misi Gerakan MI: mempercepat inovasi serta pengembangan energi bersih melalui pelbagai terobosan dan penurunan harga demi menyediakan energi bersih yang terjangkau-tersedia bagi seluruh warga dunia dalam dua dekade ke depan maupun setelahnya.

Panca Aksi Utama Gerakan MI:
1. Melipatgandakan investasi: setiap negara anggota MI berkomitmen, dalam lima tahun ke depan, investasi negara di bidang energi bersih harus dilipatkduakan.
2. Membagikan informasi tentang pengelolaan energi bersih: ini dalam rangka memfasilitasi investasi melalui investor, dunia bisnis, dan industri.
3. Menyiapkan peta-jalan pengembangan inovasi energi bersih.
4. Mendorong penelitian bersama dan pengembangan kapasitas di bidang energi bersih.
5. Mendorong pelibatan bisnis dan investor dalam pengembangan energi bersih

Kini, terdapat 21 negara anggota MI. Tahun ini, nilai anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) ke-21 negara itu sekitar US$ 15 miliar. Dalam lima tahun ke depan, MI berkomitmen melipatgandakannya menjadi US$ 30-35 miliar. Adapun anggaran R&D Indonesia sebesar US$ 17 juta. Indonesia berkomitmen untuk menggenjot anggaran R&D menjadi US$ 150 juta pada tahun 2021 atau sembilan kali lipat dari anggaran R&D 2016.

“Komitmen Indonesia ini sebagai lompatan raksasa, sebuah revolusi. Oleh karena itu komitmen semua pihak untuk mewujudkannya, baik eksekutif, legislatif, serta segenap pemangku kepentingan terkait, amat dibutuhkan,” ujar Sudirman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here