Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Juni 2018 mulai sedikit melemah. Ini mengakhiri tren kenaikan yang terjadi selama setahun terakhir. Meski begitu, harga masih di atas US$ 70 per barel.

Pelemahan harga ini diperkirakan bertahan sepanjang bulan Juli 2018. Harga diperkirakan terus melemah karena adanya seruan dari para konsumen utama minyak dunia seperti AS, China dan India kepada OPEC untuk secara bertahap meningkatkan produksi minyak mentah dalam upaya meredam pergerakan harga minyak mentah dan untuk mendukung perekonomian global. Harga juga bisa tertekan karena adanya indikasi perang perdagangan internasional yang berpotensi negatif pada permintaan minyak mentah global.

Meski begitu, harga bisa saja kembali menguat akibat terjadinya penurunan pasokan minyak mentah dari Venezuela, Libya dan Angola sebesar 2,8 juta barel per hari (bph) serta potensi penurunan pasokan dari Iran pada semester kedua 2018 akibat pengenaan sanksi oleh AS. Tidak hanya itu, harga bisa kian terdorong naik karena aktivitas pengolahan kilang di AS yang mencapai rekor tertinggi dan terjadi penurunan dalam jumlah besar pada stok minyak mentah komersial AS.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Juli 2018 ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 73,00-74,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 73,00-77,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 73,00-77,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 65,00-69,00 per barel.
Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2017-2018.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Juni 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Rabu (18/7), harga minyak mentah Indonesia mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 70,36 per barel, turun US$ 2,10 per barel dibandingkan bulan Mei yang sebesar US$ 72,46 per barel. Sementara rata-rata ICP SLC turun sebesar US$ 2,42 per barel dari US$ 73,15 per barel menjadi US$ 70,73 per barel.

Penurunan harga minyak mentah Indonesia tersebut dan juga harga minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh menurunnya permintaan minyak dari Jepang dan Korea serta menurunnya aktivitas kilang pengolahan di China dan India.

“Penurunan permintaan dan aktivitas kilang pengolahan tersebut terjadi seiring dengan program pemeliharaan sejumlah kilang,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

  • Dated Brent turun US$ 2,60 per barel dari US$ 76,93 per barel menjadi US$ 74,33 per barel.
  • Brent (ICE) turun US$ 1,24 per barel dari US$ 77,01 per barel menjadi US$ 75,94 per barel.
  • WTI (Nymex) turun US$ 2,66 per barel dari US$ 69,98 per barel menjadi US$ 67,32 per barel.
  • Basket OPEC turun US$ 1,10 per barel dari US$ 74,11 per barel menjadi US$ 73,01 per barel.

Penurunan harga ini dipengaruhi oleh kekhawatiran para pelaku pasar terhadap potensi peningkatan pasokan minyak mentah global setelah OPEC memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak mentah dengan tambahan produksi sebesar 600.000 bph. Harga juga melemah karena adanya kekhawatiran pengenaan pajak sebesar 25 persen atas impor minyak mentah AS yang akan diterapkan oleh Pemerintah China sebagai tanggapan atas kebijakan perdagangan AS terhadap China.

Tidak hanya itu, harga kian melemah permintaan minyak mentah global diperkirakan menurun. Berdasarkan OPEC dan International Energy Agency (IEA) bulan Juni 2018, bakal terjadi penurunan permintaan di negara-negara Non-OECD, Timur Tengah, dan Amerika Latin akibat penurunan permintaan akan minyak mentah OPEC, gejolak politik dan penurunan subsidi di Timur Tengah serta melemahnya perekonomian di Amerika Latin.

“Penurunan harga juga terpengaruh oleh aktivitas ekonomi dunia akibat penguatan nilai mata uang Dolar AS yang membebani sejumlah negara berkembang dan beberapa negara OECD,” tulis laporan SKK Migas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here