Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2016-2017.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional di penghujung tahun 2017 masih menunjukan kenaikan yang cukup signifikan. Ini melanjutkan tren kenaikan selama enam berturut-turut. Bahkan, harga sudah melewati angka US$ 60 per barel

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Desember 2017 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Senin (15/1), harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 60,90 per barel, naik US$ 1,56 per barel dibandingkan bulan Nopember 2017 yang sebesar US$ 59,34 per barel. Penguatan serupa juga terjadi pada harga rata-rata ICP SLC yang naik sebesar US$ 1,36 per barel dari US$ 59,83 per barel menjadi US$ 61,19 per barel.

Penguatan harga minyak mentah Indonesia tersebut dan juga harga minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh meningkatnya resiko geopolitik di Timur Tengah menyusul adanya pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel.

“Harga juga terdorong naik akibat meningkatnya permintaan minyak mentah di China yang diikuti dengan peningkatan permintaan diesel oil, kerosene, LPG, fuel oil dan gasoline,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan.

  • Dated Brent naik US$ 1,58 per barel dari US$ 62,61 per barel menjadi US$ 64,19 per barel.
  • Brent (ICE) naik US$ 1,23 per barel dari US$ 62,87 per barel menjadi US$ 64,09 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 1,28 per barel dari US$ 56,66 per barel menjadi US$ 57,95 per barel.

Kenaikan harga ini terpengaruh keputusan negara-negara OPEC untuk memperpanjang kesepakatan membatasi produksi sepanjang tahun 2018, pada general meeting yang diadakan pada 30 Nopember 2017 lalu di Wina, Austria.

Berdasarkan publikasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) bulan Desember 2017, produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC pada bulan Nopember 2017 turun 0,13 juta barel per hari (bph) menjadi sebesar 32,45 juta bph. Sementara proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2018 naik 1,51 juta bph menjadi 98,45 juta bph, dari proyeksi tahun 2017 yaitu sebesar 96,94 juta bph.

“Kenaikan harga terjadi karena meningkatnya penggunaan gasoline di Amerika Serikat dikarenakan Christmas Holiday,” tulis laporan SKK Migas.

Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh aksi mogok yang dilakukan serikat buruh minyak di Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika, pada 18 Desember 2017 sebagai protes atas terjadinya pemecatan masal di negara tersebut. Rencana aksi mogok kerja tersebut menimbulkan kekhawatiran terganggunya produksi minyak di Nigeria.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2016-2017.

Untuk bulan Januari 2018, harga diperkirakan masih terus menguat karena kepatuhan negara-negara OPEC dalam membatasi tingkat produksi sesuai kesepakatan. Harga juga kian terdorong karena terus berlanjutnya ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya permintaan minyak mentah global.

Namun, harga bisa saja kembali melemah karena terjadi penguatan nilai tukar Dolar AS dibandingkan mata uang dunia lainnya, dan juga menurunnya permintaan minyak mentah di beberapa negara Asia serta meningkatnya jumlah rig di Amerika Serikat.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Januari ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 59,00-63,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 62,00-66,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 56,00-60,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 62,00-66,00 per barel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here