, ,

ICP Mulai Turun Cukup Signifikan

Posted by

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Nopember 2018 mulai mengalami penurunan. Ini mengakhiri tren kenaikan yang terjadi sejak awal tahun 2018.

Penurunan harga yang cukup signifikan ini diperkirakan bertahan sepanjang bulan Desember 2018. Harga diperkirakan terus melemah karena terpengaruh pertumbuhan perekonomian global yang semakin melemah berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF) menyebabkan anjloknya permintaan minyak mentah global.

Harga minyak diperkirakan terus tertekan karena meningkatnya produksi dari negara-negara non-OPEC khususnya Amerika Serikat dan Rusia. Tidak hanya itu, harga akan terpengaruh oleh tekanan dari AS kepada Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak mentah guna lebih menurunkan harga minyak mentah.

Meski begitu, harga bisa saja kembali menguat karena pertemuan OPEC dan negara-negara Non-OPEC awal Desember 2018 ini di Wina berpotensi menghasilkan kesepakatan pembatasan produksi minyak mentah berkisar 1 sampai 1,4 juta barel per hari (bph).

Harga juga bisa terdongkrak naik karena adanya potensi peningkatan ketegangan geopolitik akibat kebijakan pemimpin AS yang menginginkan harga minyak yang rendah. Selain itu, harga bisa saja terus menguat karena adanya potensi peningkatan permintaan minyak dunia menjelang musim dingin khususnya China, AS, dan negara-negara OECD.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Desember 2018 ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 67,00-71,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 68,00-72,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 68,00-72,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 63,00-67,00 per barel.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Nopember 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Senin (10/12), harga minyak mentah Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 62,98 per barel, turun US$ 14,58 per barel dibandingkan bulan Oktober yang sebesar US$ 77,56 per barel. Sementara rata-rata ICP SLC turun sebesar US$ 14,16 per barel dari US$ 78,09 per barel menjadi US$ 63,93 per barel.

“Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi China akibat perang dagang dengan AS, serta melemahnya permintaan minyak mentah dan produk minyak mentah dari Jepang dan Korea,” tulis laporan SKK Migas.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami penurunan cukup besar dibandingkan bulan sebelumnya.

  • Dated Brent turun US$ 16,41 per barel dari US$ 81,15 per barel menjadi US$ 64,74 per barel.
  • WTI (Nymex) turun US$ 14,07 per barel dari US$ 70,76 per barel menjadi US$ 56,69 per barel.
  • Basket OPEC turun US$ 13,72 per barel dari US$ 79,58 per barel menjadi US$ 65,6 per barel.
  • Brent (ICE) turun US$ 14,68 per barel dari US$ 89,63 per barel menjadi US$ 65,95 per barel.

Penurunan harga cukup signifikan ini dipengaruhi oleh penyataan Arab Saudi bahwa produksi minyak mentah bulan Nopember 2018 akan melebihi produksi Oktober 2018. Kenaikan produksi itu sebagai antisipasi berkurangnya pasokan minyak mentah global atas pengenaan sanksi kepada Iran.

Publikasi International Energy Agency (IEA) bulan Nopember 2018 menyebutkan bahwa produksi minyak mentah OPEC bulan Oktober 2018 mengalami kenaikan 127 ribu bph dibandingkan bulan sebelumnya. Dan proyeksi pasokan minyak mentah negara-negara Non-OPEC tahun 2018 meningkat sebesar 170 ribu bph, menjadi 60,3 juta bph dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya.

Sementara publikasi OPEC bulan November 2018 melaporkan bahwa produksi minyak mentah OPEC di bulan Oktober 2018 mengalami peningkatan sebesar 200 ribu bph dibandingkan bulan sebelumnya.

“Penurunan harga juga terpengaruh melemahnya pertumbuhan ekonomi global yang didukung dengan laporan IMF bahwa pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2018 diproyeksikan mengalami perlambatan menjadi 3,7 persen, turun 0,2 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya,” tulis laporan SKK Migas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *