, ,

ICP Menguat Capai US$ 72 per Barel

Posted by

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Mei 2018 terus memperlihatkan tren kenaikan. Harga telah melewati angka US$ 70 per barel.

Tren penguatan ini diperkirakan bertahan sepanjang bulan Juni 2018. Harga diperkirakan terus menguat masih berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menurunkan pasokan minyak mentah global di saat permintaan minyak mentah mendekati 100 juta barel per hari. Harga kian terdorong naik karena masih tingginya tingkat kepatuhan negara-negara OPEC terhadap kesepakatan pembatasan produksi minyak mentah.

Namun, harga bisa saja kembali melemah karena meningkatnya stok minyak mentah AS akibat peningkatan pasokan minyak mentah terutama dari shale oil dan impor minyak mentah. Harga bisa juga tertekan karena adanya potensi peningkatan produksi minyak mentah Saudi Arabia dan Rusia untuk menutupi penurunan pasokan minyak mentah dari Iran dan Venezuela.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Juni ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 70,00-74,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 74,00-78,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 74,00-78,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 68,00-72,00 per barel.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Mei 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Rabu (13/6), harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 72,46 per barel, naik US$ 5,03 per barel dibandingkan bulan April yang sebesar US$ 67,43 per barel. Penguatan serupa juga terjadi pada harga rata-rata ICP SLC yang naik sebesar US$ 4,76 per barel dari US$ 68,39 per barel menjadi US$ 73,15 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah Indonesia tersebut dan juga harga minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan perekonomian di India dan China yang tinggi. Kondisi ini mendorong peningkatan permintaan minyak di sektor industri dan transportasi.

“Tingkat pengolahan minyak China dan India juga masih kuat,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan.

  • Dated Brent naik US$ 5,13 per barel dari US$ 71,80 per barel menjadi US$ 76,93 per barel.
  • Brent (ICE) naik US$ 5,24 per barel dari US$ 71,76 per barel menjadi US$ 77,01 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 3,66 per barel dari US$ 66,33 per barel menjadi US$ 69,98 per barel.
  • Basket OPEC naik US$ 5,68 per barel dari US$ 68,43 per barel menjadi US$ 74,11 per barel.
Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Kenaikan harga ini terpengaruh oleh komitmen yang kuat dari negara-negara produsen minyak non-OPEC, yang dipimpin oleh Rusia, dan OPEC untuk mematuhi kesepakatan pembatasan produksi minyak mentah (Perjanjian Wina). Dalam perjanjian itu, disepakati kuota produksi1,8 juta barel per hari, sebagai upaya mengurangi stok minyak global yang tinggi.

Kenaikan juga dipengaruhi oleh permintaan minyak mentah global. Berdasarkan publikasi OPEC, permintaan minyak dunia diperkirakan mengalami kenaikan 1,65 juta barel per hari menjadi rata-rata 98,85 juta barel per hari. Kenaikan ini berasal dari menguatnya permintaan dari negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) serta perbaikan permintaan dari negara-negara non-OECD (terutama wilayah Asia dan Amerika Latin).

“Kenaikan harga juga dipicu oleh Peningkatan aktifitas kilang pengolahan di AS dan Asia dengan tingkat pemanfaatan mencapai 90 persen dari kapasitas kilang,” tulis laporan SKK Migas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *