Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2017-2018.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan April 2018 masih memperlihatkan tren kenaikan. Malahan, harga minyak ada yang sempat menyentuh angka US$ 70 per barel. Sementara harga beberapa jenis minyak mentah lainnya hampir mencapai angka tersebut.

Tren penguatan harga ini diperkirakan bertahan sepanjang bulan Mei 2018. Harga diperkirakan terus menguat karena meningkatnya ketegangan geo politik di wilayah timur tengah dan adanya tren peningkatan throughput refinery global mulai kuartal II 2018. Harga kian terdorong naik karena adanya potensi Iran dikenakan sanksi ekonomi kembali oleh negara-negara Barat.

Namun, harga bisa saja kembali melemah karena meningkatnya pasokan minyak mentah terutama dari kegiatan pemboran shale oil di Amerika Serikat dan beberapa negara OECD. Harga minyak kian tertekan karena menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap EURO dan mata uang utama lainnya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Mei ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 67,00-72,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 71,00-76,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 71,00-76,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 67,00-72,00 per barel.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan April 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Jum’at (11/5), harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 67,43 per barel, naik US$ 5,56 per barel dibandingkan bulan Maret yang sebesar US$ 61,87 per barel. Penguatan serupa juga terjadi pada harga rata-rata ICP SLC yang naik sebesar US$ 5,54 per barel dari US$ 62,85 per barel menjadi US$ 68,39 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah Indonesia tersebut dan juga harga minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan minyak di India, yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pembangunan infrastruktur pemerintah. Hal serupa juga terjadi di Korea Selatan, kenaikan permintaan minyak untuk kebutuhan industry petrokimia.

“Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan perekonomian di India dan China yang tinggi,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan.

  • Dated Brent naik US$ 5,90 per barel dari US$ 65,90 per barel menjadi US$ 71,80 per barel.
  • Brent (ICE) naik US$ 5,04 per barel dari US$ 66,72 per barel menjadi US$ 71,76 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 3,56 per barel dari US$ 62,77 per barel menjadi US$ 66,33 per barel.
  • Basket OPEC naik US$ 4,54 per barel dari US$ 63,76 per barel menjadi US$ 68,30 per barel.

Kenaikan harga ini terpengaruh kondisi perekonomian dunia. Berdasarkan publikasi OPEC di bulan April 2018, tren pertumbuhan perekonomian global terus berlanjut, dengan tingkat pertumbuhan global sebesar 3,8 persen. Pertumbuhan perekonomian yang mengalami peningkatan dari perkiraan bulan sebelumnya meliputi kawasan Eropa, Inggris dan Brazil.

Kenaikan juga dipengaruhi oleh permintaan minyak mentah global. Berdasarkan publikasi OPEC, pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2018 telah disesuaikan lebih tinggi sekitar 30 ribu barrel per hari dibandingkan penilaian bulan sebelumnya, sehingga menjadi sebesar 1,63 juta barel per hari. Sementara berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA) di bulan April 2018, tahun 2018 secara keseluruhan, permintaan minyak diperkirakan tumbuh sebesar 1,5 juta barel per hari. Permintaan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada Kuartal I 2018 telah direvisi naik 315 ribu barel per hari.

“Kenaikan harga juga dipicu oleh ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah akibat penyerangan udara kepada Suriah. Pemboman tersebut merupakan intervensi terbesar oleh negara-negara Barat terhadap Suriah dan sekutunya-sekutunya termasuk Rusia,” tulis laporan SKK Migas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here