Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Associaton (IPA), Marjolijn Wajong.

Jakarta, Petrominer — Indonesian Petroleum Association (IPA) memandang industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia perlu segera berbenah. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, industri migas Indonesia telah menjadi industri yang diatur dengan ketat, ditambah lagi dengan regulasi dari beberapa kementerian yang tidak terkoordinasikan dan tidak terpadu satu sama lain.

Situasi ini membawa kesulitan ketika kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) melakukan kegiatan eksplorasi. Guna menggalakkan eksplorasi, IPA pun mendesak Pemerintah untuk menghilangkan atau menghapuskan hambatan-hambatan tersebut, misalnya pengadaan lahan, pemajakan tak langsung, proses pengembalian area kerja dan perizinan.

“Kini, Indonesia menjadi negara yang kurang menarik bagi investor migas,” kata Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, Jum’at (13/5).

Wajong menyatakan, pada kondisi pasar seperti ini, Indonesia bersaing dengan negara lain untuk mendapatkan investasi yang semakin sulit didapatkan. Dan, kebijakan fiskal yang ditawarkan menjadi sangat penting ketika investor membandingkannya dengan peluang proyek di negara lain, terutama untuk proyek-proyek berisiko tinggi.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengatakan bahwa kegiatan eksplorasi di Indonesia saat ini sudah sangat rendah. Jumlah sumur yang dibor beberapa tahun terakhir sangat sedikit dan tanpa temuan yang signifikan. Situasi ini diperparah dengan turunnya harga minyak pada 2014 hingga 2016 ini.

“Industri migas Indonesia berada pada tahap kritis karena produksi yang terus menurun dan permintaan yang terus meningkat, dalam beberapa dasawarsa terakhir,” tegas Wajong.

Menurutnya, penyebab dari penurunan kinerja eksplorasi di Indonesia beberapa dasawarsa terakhir disebabkan beberapa faktor. Faktor tersebut di antaranya kondisi geologis yang kompleks, keterbatasan data, regulasi dan kebijakan fiskal yang kurang menarik.

Peluang eksplorasi di Indonesia sebagian besar berada di lokasi yang terpencil, seperti Indonesia bagian timur, di mana hanya terdapat sedikit infrastruktur dan jasa pendukung. Faktor ini berakibat pada mahal dan lamanya kegiatan eksplorasi dan produksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here