Direktur Utama Supreme Energy, Supramu Santosa.

Jakarta, Petrominer — Pemerintah memang sudah mempersilahkan para pengembang panasbumi melakukan renegoisasi harga listrik dengan PT PLN (Persero), dan ini menjadi angin segar bagi sektor panasbumi. Ketentuan itu diatur dalam sebuah peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Meski begitu, pengembangan panasbumi masih saja bergerak lambat. Sejumlah kendala ditenggarai masih terus menghadang. Terlebih lagi, kini dikhawatirkan ikut terkena dampak rendahnya harga minyak mentah.

Apa saja hambatan tersebut dan sejauh mana harga listrik panasbumi sangat mempengaruhi masa depan pengembangan energi bersih ini, berikut wawancara Petrominer dengan Direktur Utama Supreme Energy, Supramu Santosa:

Kenapa proyek pengembangan panasbumi masih saja mandek seperti beberapa tahun lalu? Hambatan apa saja yang sekarang menghalangi?

Masalahnya masih sama saja. Harga listrik dan investasi untuk pengembangannya.

Investasi panas bumi memelukan biaya yang cukup tinggi. Eksplorasi harus dibiayai dengan equity, sehingga investor atau pengembang panas bumi harus mempunyai modal yang cukup kuat untuk melakukan eksplorasi.

Mungkin sebagian pemegang WKP tidak mempunyai Financial Capability yang cukup. Sebagai contoh Supreme Energy harus mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar US$ 150 juta di Muaralaboh dan US$ 170 juta di Rantau Dedap untuk biaya eksplorasi.

Ingat bahwa biaya explorasi tidak hanya biaya pemboran sumur, tetapi juga biaya pembangunan infrastruktur untuk dapat melakukan kegiata pemboran.

Bukankah masalah harga sudah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM? Malahan, bisa direvisi lagi besarannya.

Memang Peraturan Menteri ESDM sekarang membolehkan melakukan renegosiasi harga. Akan tetapi negosiasi harga itu bisa dilakukan hanya setelah melakukan eksplorasi.

Padahal, sebagian besar WKP didapatkan sebagai hasil tender tahun 2009 dan 2010, dengan tarif yang sangat rendah, antara 6 sen dolar sampai 8 sen dolar.

Mungkin sulit bagi sebagaian besar pemegang WKP untuk mendapatkan partner strategis untuk melakukan eksplorasi dengan tariff PPA yang rendah, apalagi dengan ketidakpastian harga jual listrik nanti setelah melakukan eksplorasi.

Dengan keberhasilan Supreme melakukan negosiasi, mungkin akan mengurangi ketidakpastian tersebut.

Berapa harga yang sesuai atau ekonomis untuk listrik panasbumi?

Investasi panasbumi adalah investasi yang berisiko tinggi dan jangka waktu yang panjang, karena harus melakukan explorasi yang tingkat keberhasilanya sekitar 50 sampai 60 persen. Karena itu diperlukan “economic return“ yang menarik sesuai dengan tingkat resiko.

Kurangnya ketertarikan investor untuk melakukan eksplorasi selama ini, diantaranya menunjukan bahwa harga yang sekarang ini dianggap belum cukup memberikan insentif yang sesuai dengan resiko itu.

Menurut saya kalau eksplorasi dapat menghasilkan kapasitas yang tinggi, di atas 150 MW misalnya, harga batas atas yang sekarang ini cukup menarik. Tetapi apabila explorasi yang dihasilkan tidak cukup besar maka harga tersebut tidak cukup menarik.

Karena itu sekarang ini sedang dipertimbangkan “sliding scale tariff“, yakni besar kecilnya tarif akan tergantung pada kapasitas produksi. Mudah mudahan kalau sliding scale tariff nanti diberlakukan dengan kesempatan bagi investor untuk mendapatkan “economic return“ yang menarik, investasi pengembangan panas bumi akan lebih menarik.

Ada juga wacana bahwa pemerintah akan melakukan explorasi sehingga pengembang tidak menanggung resiko eksplorasi. Inipun akan lebih mempercepat pengembangan panas bumi.

Dengan permasalahan yang ada dan kondisi seperti sekarang ini, apakah sektor panasbumi masih menarik bagi investor, baik lokal maupun asing?

Saya kira masih menarik. Apalagi jika wacana maupun rencana di atas segera diimplementasikan.

Saat kondisi harga minyak sedang rendah seperti sekarang, adakah pengaruhnya bagi proyek pengembangan panasbumi?

Harga minyak yang rendah seharusnya tidak ada pengaruh negative. Pembangunan energi terbarukan adalah untuk strategi jangka panjang yang harus dilakukan oleh Indonesia untuk mencapai Ketahanan Energ berdasarkan energy mix yang sudah ditentukan.

Apalagi, harga minyak tidak akan selamanya rendah. Dalam membangun energi kita harus berfikir jangka panjang. Ingat untuk membangun PLTP diperlukan paling tidak diperlukan waktu 7 tahun dari saat kita melakukan explorasi sampai produksi listrik.

Meski begitu, dalam jangka pendek saat ini, ada keuntungan dalam explorasi panasbumi yang disebabkan rendahnya harga minyak. Lemahnya kegiatan migas membuat harga services seperti drilling rig menurun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here