Anggota Komisi VII DPR, Kurtubi, menyatakan dalam proses jangka panjang ada baiknya untuk rumah tangga diarahkan ke gas pipa. Bukan elpiji (LPG) seperti yang terjadi saat ini.

Jakarta, Petrominer — Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi, menegaskan sudah tidak ada lagi subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia saat ini. Pasalnya, harga BBM yang dijual di Stasiun Pengisian BBM Umum (SPBU) sudah di atas biaya pokoknya.

Kurtubi menjelaskan, biaya pokok BBM terdiri dari biaya pengangkutan minyak mentah, pengolahan dan distribusi serta biaya impor untuk mengangkut BBM ke Indonesia yang mengacu kepada harga pasar. Kombinasi ini melahirkan biaya pokok BBM.

“Dengan harga jual sekarang baik solar maupun premium sudah di atas biaya pokok. Dengan kata lain, harga pokok BBM sudah berada di bawah harga jualnya di pom bensin,” ujar Kurtubi dalam sebuah acara diskusi, Selasa (15/3).

Saat ini, harga BBM yang ditetapkan pemerintah sudah di atas harga pokok tersebut, sehingga sudah tidak ada lagi subsidi pada solar yang dipatok Rp 1.000 per liter.

Kurtubi pun menyayangkan pembentukan harga solar masih mengacu pada harga minyak Singapura (Mean of Plates Singapore/MOPS). Sedangkan saat ini Indonesia sudah tidak mengimpor solar.

‎”Masalahnya berbeda kalau konsep biaya pokok ini ganti dengan harga MOPS di pasar internasional, padahal solar kan juga diproduksi dalam negeri tidak hanya dibeli dari luar,” tuturnya.

Sebelumnya, ‎Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan akan mengurangi subsidi pada solar Rp 1.000 per liter. Rencananya subsidi itu akan dialihkan untuk pengembangan ketahanan energi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here