Petugas sedang memeriksa alat meteran listrik.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah tengah menyederhanakan kelas golongan pelanggan listrik rumah tangga non subsidi. Perombakan golongan tersebut sedang disusun kembali oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN (Persero). Sementara pelanggan rumah tangga penerima subsidi tidak mengalami perubahan.

“Golongan 450 VA dengan pelanggan sebanyak 23 juta rumah tangga dan golongan 900 VA dengan pelanggan 6,5 juta rumah tangga, yang disubsidi oleh pemerintah, tidak mengalami perubahan. Ini sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2018,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, Minggu (12/11).

Menurut Dadan, penyederhanaan tersebut hanya berlaku bagi pelanggan dengan golongan 900 VA tanpa subsidi, 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA. Semua golongan tersebut akan dijadikan satu golongan dan ditambah dayanya menjadi 4.400 VA.

Sementara golongan 4.400 VA hingga 12.600 VA dinaikkan dan ditambahkan dayanya menjadi 13.000 VA. Sedangkan golongan 13.000 VA ke atas, dayanya akan di-loss stroom.

“Dengan demikian ke depan golongan pelanggan listrik rumah tangga hanya akan terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, pelanggan listrik dengan subsidi (450 VA dan 900 VA subsidi). Kedua, pelanggan listrik non-subsidi 4.400 VA dan 13.000 VA. Dan ketiga, pelanggan listrik non-subsidi 13.000 VA ke atas (loss stroom),” ujarnya.

Meski mengalami kenaikan dan penambahan daya, jelas Dadan, para pelanggan tidak akan mengalami perubahan dalam pengeluaran biaya listrik. Pasalnya, mereka tidak akan dikenakan biaya apa pun, dan besaran tarif per kWh juga tidak akan berubah.

Dengan penyederhanaan golongan pelanggan listrik tersebut, Pemerintah berharap tenaga listrik lebih bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena visi besar Pemerintah dalam bidang kelistrikkan adalah menaikkan kapasitas listrik, pemerataan layanan listrik dengan target elektrifikasi nasional 97 persen hingga tahun 2019, dan keterjangkauan masyarakat dalam mengakses listrik.

Tidak hanya itu, masyarakat yang memiliki Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga akan diuntungkan dengan program ini. Hal itu karena selama ini UMKM rata-rata adalah pelanggan golongan 1.300 VA hingga 3.300 VA. Dengan kenaikan daya tanpa tambahan biaya dan tanpa kenaikan tarif per kWh, UMKM dapat berkembang karena bisa memperoleh daya listrik yang lebih besar tanpa mengeluarkan biaya tambahan.

“Selain itu, program penambahan dan pembangunan pembangkit listrik yang sedang dikerjakan oleh Pemerintah juga akan bisa dinikmati secara langsung oleh masyarakat. Selama ini, keterbatasan daya listrik akibat pembatasan golongan mengakibatkan daya listrik lebih banyak dinikmati oleh dunia usaha besar dan pelanggan golongan industri saja,” ujar Dadan.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pembahasan mengenai teknis pengaturan penyederhanaan golongan pelanggan dan daya listrik tersebut secara detail masih dibahas oleh Kementerian ESDM dan PLN. Selanjutnya akan disosialisasikan kepada publik sebelum diberlakukan.

Kompor Listrik

Dengan rencana ini, menurut Dadan, ke depan Pemerintah mendorong agar rumah tangga Indonesia dapat menggunakan kompor induksi. Kompor induksi atau dikenal sebagai kompor listrik, merupakan jenis kompor yang memanfaatkan reaksi magnet dari energi listrik untuk menghasilkan panas.

Kompor induksi menggunakan sekitar 300-500 watt daya listrik dengan biaya per kalori lebih rendah dibandingkan penggunaan LPG 3 kg. Pengurangan penggunaan LPG 3 kg bertujuan untuk mengurangi angka impor dan subsidi LPG yang saat ini sudah membengkak dari Rp 7 triliun menjadi Rp 20 triliun per tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here