Gardu Induk Pangkalan Bun 150 kV di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Pangkalan Bun, Petrominer – Kelistrikan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng), semakin handal. Sistem kelistrikan di wilayah ini telah terhubung atau ter-interkoneksi dengan sistem utama Kalimantan. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut diharapkan bisa tumbuh lebih cepat lagi.

Interkoneksi itu terjadi menyusul beroperasinya Gardu Induk (GI) Pangkalan Bun 150 kilo volt (kV). PT PLN (Persero) mulai mengoperasikan gardu induk tersebut, Senin (10/12). Melalui gardu induk tersebut, sistem kelistrikan Pangkalan Bun terhubung (interkoneksi) dengan sistem kelistrikan interkoneksi Barito – Mahakam (Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur), yang saat ini memiliki surplus daya mencapai lebih dari 200 Mega Watt (MW).

Sebelumnya, pasokan listrik Pangkalan Bun disuplai dari sistem kelistrikan yang terpisah (isolated), di mana suplai kelistrikan sepenuhnya hanya mengandalkan Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berdaya mampu 33,65 Mega Watt (MW). Dengan sistem interkoneksi ini, suplai utama kelistrikan di Pangkalan Bun akan disuplai langsung dari Sistem Interkoneksi Barito – Mahakam.

Menurut Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN Machnizon Masri, suplai utama listrik langsung dari Sistem Barito – Mahakam ini tak hanya mencukupi kebutuhan listrik masyarakat di Pangkalan Bun yang ada saat ini, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan energi listrik bagi para calon investor di Kabupaten Kotawaringin Barat dan sekitarnya.

“Sebagai suplai utama, sistem kelistrikan Barito tentunya dapat memenuhi permintaan kebutuhan energi listrik dalam skala besar bagi para pelaku investasi yang bergerak di bidang industri maupun bisnis,” ungkap Machnizon.

Lihat juga: Listrik Kaltim dan Kalsel Terhubung Satu Interkoneksi

Dengan beroperasinya GI Pangkalan Bun, PLN dapat menurunkan Biaya Pokok Produksi Penyediaan (BPP) listrik di Kotawaringin Barat yang berasal dari PLTD berbahan bakar High Speed Diesel (HSD) mencapai Rp 363 Juta per harinya. Dengan kata lain, PLN dapat menghemat Rp 130 miliar setiap tahunnya.

Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam penyediaan energi listrik, sudah menjadi tugas dan misi PLN untuk menjadikan listrik sebagai pendorong kegiatan ekonomi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, yakni dengan cara memenuhi dan meningkatkan kebutuhan supai listrik pelaggan.

Selain itu, kemudahan mendapatkan energi listrik atau Getting Electricity merupakan salah satu indikator dalam kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business). Artinya semakin mudahnya konsumen atau investor dalam mendapatkan energi listrik, maka semakin mudah pula mereka mau untuk berinvestasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Triwulan III tahun 2018, perekonomian di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami pertumbuhan mencapai 6,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Dengan ketersediaan suplai energi listrik melalui sistem interkoneksi yang masuk saat ini, Pangkalan Bun sebagai salah satu pintu gerbang utama menuju Povinsi Kalimantan Tengah diharapkan dapat menjadi kota strategis bagi para Investor. Sehingga pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Tengah diharapkan dapat terus meningkat setiap tahunnya.

Total investasi yang dikeluarkan PLN untuk membangun GI Pangkalan Bun 150 kV mencapai Rp 106 miliar. Sedangkan untuk mewujudkan sistem interkoneksi dengan Pangkalan Bun, PLN juga membangun infrastruktur kelistrikan lainnya yang meliputi GI Sampit 150 kV dan Tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT).

Total Tower SUTT yang dibangun untuk menghubungkan GI Pangkalan Bun dengan GI Sampit sebanyak 474 Tower dengan jalur transmisi sepanjang 167 kilo meter sirkit (kms). Jalur transmisi tersebut membentang melintasi 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Waringin Timur, Kabupaten Seruyan dan Kabupaten Kotawaringin Barat yang meliputi 7 Kecamatan dan 20 Desa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here