Emisi Global Belum Turun, Indonesia Penyumbang Terbesar

0
917
Konsumsi energi tahunan di Indonesia selama periode 2000-2021.

Jakarta, Petrominer – Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa emisi karbon global tahun 2022 masih tetap di level rekor tanpa ada tanda-tanda penurunan yang sangat dibutuhkan untuk membatasi pemanasan hingga 1,5°C. Jika level emisi tetap seperti saat ini, ada kemungkinan pemanasan global 1,5°C akan terlampaui dalam sembilan tahun ke depan.

Demikian diungkapan Global Carbon Project, dalam laporannya berjudul Global Carbon Budget Report 2022 yang dirilis hari ini, Jum’at (11/11). Laporan ini muncul di saat para pemimpin dunia bertemu di COP27 di Mesir untuk membahas krisis iklim.

Laporan tersebut memproyeksi total emisi CO2 global bakal mencapai 40,6 miliar ton (GtCO2) tahun ini. Hal ini didorong oleh emisi CO2 fosil yang diproyeksi naik 1,0 persen dibandingkan 2021, mencapai 36,6 GtCO2 atau sedikit di atas tingkat pra-Covid-19 tahun 2019 (estimasi ini termasuk penyerap karbonasi semen 0,8 GtCO2 per tahun).

Emisi dari perubahan penggunaan lahan seperti deforestasi diproyeksi menjadi 3,9 GtCO2 pada tajim 2022. Ini menjadi sumber emisi CO2 yang signifikan, yakni sekitar sepersepuluh dari jumlah emisi fosil.

Bersama Brasil dan Republik Demokratik Kongo, Indonesia berkontribusi lebih dari setengah (58 persen) dari total emisi dari perubahan penggunaan lahan global. Bahkan, Indonesia berada di peringkat 10 dari daftar negara penghasil emisi terbesar di dunia.

“Emisi CO2 tertinggi dari perubahan penggunaan lahan selama 2012-2021 adalah Indonesia dan Brasil, yang bersama Republik Demokratik Kongo berkontribusi lebih dari setengah (58 persen) dari total emisi perubahan penggunaan lahan global,” tulis laporan tersebut

Laporan itu juga menyebutkan bahwa pada tahun 2021, Indonesia berada di peringkat 10 dari daftar negara penghasil emisi terbesar di dunia, bersama China, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Rusia, Jepang, Iran, Jerman, dan Arab Saudi. Total emisi yang dihasilkan Indonesia tahun 2021 mencapai 0,62 miliar ton per tahun dengan persentase peningkatan emisi 1,8 persen.

Emisi yang diproyeksi dari batubara dan minyak berada di atas tingkat tahun 2021, dengan minyak menjadi kontributor terbesar terhadap total pertumbuhan emisi. Pertumbuhan emisi minyak sebagian besar dari rebound yang tertunda dari penerbangan internasional menyusul pembatasan pandemi Covid-19.

Anggaran karbon yang tersisa apabila dunia ingin memiliki tingkat keberhasilan 50 persen dalam menahan kenaikan rata-rata suhu dunia di bawah 1,5°C tinggal 380 GtCO2. Anggaran ini akan habis terpakai dalam sembilan tahun saja apabila tingkat emisi gas rumah kaca dunia masih sama seperti emisi tahun 2022 ini.

Sedangkan anggaran karbon apabila dunia ingin memiliki tingkat keberhasilan 50 persen dalam upaya menahan keernaikan suhu rata-rata di bawah 2 derajat masih tersisa sebanyak 1230 GtCO2. Anggaran ini baru akan habis terpakai dalam 30 tahun jika dunia masih terus mengeluarkan emisi dengan tingkat yang sama seperti tahun 2022.

Sebagai catatan, emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan dunia masih diproyeksikan akan terus meningkat apabila kondisi tidak berubah, sehingga anggaran karbon tersebut kemungkinan besar akan lebih cepat habis terpakai.

Saat ini, untuk mencapai nol emisi CO2 pada 2050 berarti dibutuhkan penurunan sekitar 1,4 GtCO2 setiap tahun, sebanding dengan penurunan emisi yang diamati pada 2020 akibat lockdown saat Covid-19.

Laporan Global Carbon Project ini juga memproyeksi bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer akan mencapai rata-rata 417,2 bagian per juta pada tahun 2022, lebih dari 50 persen di atas tingkat pra-industri. Proyeksi total emisi 40,6 GtCO2 pada tahun 2022 mendekati 40,9 GtCO2 pada tahun 2019, yang merupakan total tahunan tertinggi yang pernah ada.

Lahan dan lautan, yang menyerap dan menyimpan karbon, terus mengambil sekitar setengah dari emisi CO2. Penyerapan CO2 laut dan darat masih meningkat sebagai respons terhadap peningkatan CO2 di atmosfer, meskipun perubahan iklim mengurangi pertumbuhan ini sekitar 4 persen (penyerapan laut) dan 17 persen (penyerapan lahan) selama dekade 2012-2021.

Carbon budget tahun ini menunjukkan bahwa peningkatan emisi fosil jangka panjang telah melambat. Kenaikan rata-rata mencapai +3 persen per tahun selama tahun 2000-an, sementara pertumbuhan dalam dekade terakhir sekitar +0,5 persen per tahun.

Fluks CO2 tahunan akibat perubahan penggunaan lahan di Indonesia.

Tim peneliti, termasuk Exeter University, University of East Anglia (UEA), CICERO dan Ludwig-Maximilian-University Munich, menyambut baik perlambatan ini. Namun mereka mengatakan hal itu masih jauh dari penurunan emisi yang dibutuhkan.

“Tahun ini, ketika kita butuh penurunan emisi yang cepat, malah terjadi kenaikan emisi CO2 secara global dari fosil. Ada beberapa tanda positif, tetapi para pemimpin di pertemuan COP27 harus mengambil tindakan yang berarti jika ingin punya peluang membatasi pemanasan global mendekati 1,5°C,” kata Profesor Pierre Friedlingstein dari Exeter’s Global Systems Institute, yang memimpin penelitian.

Sementara Profesor Corinne Le Quéré, seorang Royal Society Research Professor di UEA’s School of Environmental Sciences, mengatakan, “Temuan kami mengungkapkan turbulensi dalam pola emisi tahun ini akibat pandemi dan krisis energi global. Jika pemerintah merespons dengan melakukan investasi energi bersih dan menanam, bukan menebang pohon, emisi global dapat dengan cepat mulai turun.”

Profesor Le Quéré menambahkan, “Kita berada pada titik balik dan tidak boleh membiarkan perhatian kita beralih dari kebutuhan mendesak dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi, untuk menstabilkan iklim global dan mengurangi risiko yang muncul.”

Penghapusan karbon melalui reboisasi atau hutan baru akan mengimbangi setengah dari emisi deforestasi. Para peneliti mengatakan, menghentikan deforestasi dan meningkatkan upaya pemulihan dan memperluas hutan merupakan peluang besar demi mengurangi emisi.

Laporan ini, yang dihasilkan oleh lebih dari 100 ilmuwan, meneliti sumber karbon maupun penyerapnya. Laporan ini memberikan pembaruan tahunan yang telah ditinjau dan menggunakan metodologi mapan yang sepenuhnya transparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here