
Jakarta, Petrominer – Untuk pertama kalinya, dalam 1,5 tahun terakhir, emisi CO2 di Uni Eropa turun pada periode Agustus-Oktober 2022. Kondisi ini juga berarti puncak lonjakan kembali emisi Uni Eropa akan di bawah level sebelum pandemi Covid-19.
Menurut laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), peningkatan pasokan listrik dari pembangkit listrik berbasis energi terbarukan menjadi salah satu penyebabnya. Produksi listrik pembangkit berbasis surya dan angin tercatat naik 58 terawatt hour (TWh), lebih tinggi 16 persen dibandingkan pada tahun 2021. Kemudian, pasokan listrik dari pembangkit tenaga air kembali normal.
“Penyebab lainnya, penurunan permintaan gas dan minyak bumi lantaran harga bahan bakar fosil naik,” tulis CREA dalam laporannya CREA bertitel “Tracking EU CO2 Emissions: September and October See the First Drop in 16 months“yang dirilis, Kamis (3/11) .
Terkait sempat melonjaknya permintaan bahan bakar fosil Uni Eropa di paruh pertama 2022, hal ini lantaran situasi buruk yang terjadi secara bersamaan, yakni penurunan produksi listrik pembangkit berbasis air, serta terjadinya gelombang panas pada musim panas. Namun, kondisi ini hanya sementara.
Laporan CREA tersebut juga mengungkapkan, meski porsi pembangkit thermal sempat naik, hal ini bukan berarti ada kebijakan yang berpihak pada batu bara. Pasalnya, gas dan batubara naik pada proporsi yang sama dalam bauran energi Uni Eropa. Bahkan, pada September-Oktober 2022 ketika pembangkitan listrik dari gas masih naik tipis, batubara sudah turun. Selain itu, lonjakan permintaan minyak sudah mulai berkurang sejak musim panas seiring tingginya harga.
Yang menarik, menurut CREA, pasar Uni Eropa merespons penurunan emisi ini dengan menaikkan kapasitas energi terbarukan, heat pump, dan kendaraan listrik. Uni Eropa juga meningkatkan ambisinya untuk bertransisi ke energi rendah emisi karbon. Langkah ini menjadi kunci untuk mengakhiri dampak krisis, serta menurunkan konsumsi bahan bakar fosil dan emisi di masa mendatang.








