Yogyakarta, Petrominer – Program electrifying agriculture yang digagas PT PLN (Persero) mampu mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan petani. Ini dibuktikan oleh Kelompok Tani (Poktan) Bawang Merah Ngudi Makmur di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ilyas Suprapta, salah seorang anggota Poktan, mengaku berhasil melakukan efisiensi biaya operasional hingga 90 persen sejak beralih menggunakan listrik untuk mengairi sawahnya sejak tahun 2022 lalu.
“Setelah beralih ke energi listrik setahun lalu, efisiensi biaya untuk penyiraman jadi sangat tinggi bagi Kelompok Tani kami,” ujar Ilyas pada kegiatan penyalaan serentak program electrifying agriculture di Kecamatan Kretek, Bantul, Kamis (11/5).
Program ini merupakan salah satu inovasi PLN dengan pemanfaatan energi listrik di bidang agrikultur, seperti pertanian, perikanan, perkebunan serta peternakan. Tak heran apabila program ini dikatakan terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional.
Sebelum adanya program ini, menurut Ilyas, dia dan para petani lainnya kerap menghadapi kendala dalam mengairi lahannya. Hal ini karena semua petani menggunakan diesel berbahan bakar minyak (BBM) yang menelan biaya besar.
Dalam sekali penyiraman lahan bisa menghabiskan 1,5 hingga 2 liter per seribu meter atau sekitar Rp 20 ribu dalam jarak satu meter. Ditambah lagi, dengan adanya pembatasan dalam jumlah pembelian yang menyulitkan para petani mendapat BBM.
Karenanya, kehadiran program electrifying agriculture berhasil membuat Kelompok Tani Ngudi Makmur dengan 801 anggotanya mampu menghemat hingga 90 persen untuk biaya penyiraman setiap musimnya.
“Dengan biaya yang murah, kini ketersediaan air kami cukup memadai untuk bertanam bawang, sehingga itu sangat berdampak kepada produktivitas hasil panen kami. Kami dari Poktan Ngudi Makmur mengucapkan terima kasih pada PLN atas kontribusinya menghadirkan listrik di lahan-lahan kami,” ungkap Ilyas.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan harapannya bahwa ke depan program electrifying agriculture PLN bisa semakin masif menyasar petani dalam upaya peningkatan hasil panen. Hal ini karena antusiasme petani dalam program ini sangat tinggi.
“Mudah-mudahan dengan sarana ini ekonomi Indonesia semakin kuat dan taraf hidup khususnya untuk para petani, peternak, petambak semakin baik. Kita bantu petani yang kesulitan mendapatkan BBM yang biayanya mahal dengan energi listrik yang lebih bersih bagi petani kita,” ujar Darmawan.
Sementara General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, AB Wahyu Jatmiko, menegaskan bahwa PLN terus berkomitmen mendukung pengembangan sektor pertanian untuk menciptakan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Hingga periode bulan April 2023, menurut Jatmiko, PLN telah menyalurkan total daya 5.387.000 Volt Ampere (VA) kepada 904 pelanggan untuk membantu efisiensi operasional pelaku usaha sektor agrikultur di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.
“Langkah ini merupakan komitmen kami sebagai perseroan dalam menghasilkan Creating Share Value (CSV) yang berlandaskan Sustainable Developments Goals (SDGs) atau pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, menyatakan dukungannya sekaligus mengapresiasi program electrifying agriculture PLN dalam mendorong sektor agrikultur khususnya di Kabupaten Bantul.
“Kami mengapresiasi langkah PLN yang ikut memperhatikan sektor agrikultur khususnya di Kabupaten Bantul yang telah menjadi benchmark kedaulatan pangan. Kami berharap program ini terus meluas hingga ke pelosok wilayah sehingga turut merasakan manfaat program ini sehingga produktivitas petani meningkat dan tingkat kesejahteraan semakin membaik,” ujar Joko.








Tinggalkan Balasan