PGN melakukan penyaluran gas bumi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) menggunakan teknologi GTM (Gas Transpotation Module) atau Gaslink Truck untuk daerah yang belum terjangkau jaringan pipa gas.

Jakarta, Petrominer – Komisi VII DPR RI mendorong PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) untuk terus melakukan inovasi dalam bisnisnya menyalurkan gas bumi. Hal ini diperlukan guna memperkuat perannya sebagai agregator gas nasional.

Menurut Anggota Komisi VII DPR, Ridwan Hisjam, sebagai agregator gas, PGN harus membuat terobosan untuk membuka peluang bisnis baru pada sektor gas di Tanah Air. Salah satu contoh terobosan yang bisa dilakukan PGN adalah mengolah gas bumi menjadi bahan baku Liquified Petroleum Gas (LPG).

“Jika PGN mampu menggarap gagasan tersebut, akan membawa dampak positif bagi negara. Pasalnya, subsidi kebutuhan LPG semakin meningkat, subsidi LPG pun terus bertambah,” ujar Ridwan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR dengan Direksi PGN, Senin (6/7).

Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Rapat Komisi VII DPR, Ramson Siagian, menyampaikan bahwa dalam meningkatkan pemanfaatan gas, PGN bisa bekerjasama dengan PT PLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik tenaga gas skala kecil.

“PGN bisa bekerjasama dengan PLN membangun pembangkit small scale, gasnya disuplai dari PGN,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PGN Suko Hartono menuturkan bahwa PGN telah memiliki rencana pengembangan bisnis ke industri petrokimia dengan melakukan hilirisasi gas dari methanol menjadi Dimethil Ether (DME), produk hilirisasi gas ini bisa menjadi bahan baku pengganti LPG yang sebagian besar masih impor. PGN pun telah melakukan studi untuk merealisasikan rencana tersebut diperkirakan pada tahun 2022 atau 2023 telah rampung.

“Kemudian amonia dan turunannya kami batasi portofolio 5-15 persen, karena itu bukan bisnis kami. Itu bisnis kerja sama dengan subholding kilang, kami melihat kami bisa meningkatkan volume dan kami tahu bisnis di hilir. Jadi kami masuk portofolio hilir di petrokimia, methanol dan DME karena itu bisa gantikan LPG,” jelas Suko.

Inovasi lainnya adalah memperluas penyaluran gas ke konsumen rumah tangga di wilayah yang belum terdapat jaringan pipa gas. Caranya menggunakan Liquefied Natural Gas (LNG) yang dibawa dengan ISO Tank. Proyek ini, menurutnya, akan dikerjasamakan dengan badan usaha swasta atau pengembang.

Tidak hanya itu, PGN juga sedang mengembangkan bisnis pengadaan internet dengan memanfaatkan jaringan gas bumi untuk memasang kabel fiber optik.

“Kami punya anak perusahaan PGASCom kami pasang jaringan pipa pakai fiber optik untuk kontrol laju arus dan sebagainya. Kami pasang LNG storage depan perumahan kami pasang infrasturkur pipa sekalian monitoring fiber optik, tapi ternyata bisnis ini luar biasa kami bisa lakukan tambahan menjual produk internet data dan televisi nanti muncul produk gasnet jualan gas bonus internet dan TV,” papar Suko.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan harapannnya bahwa dalam menjalankan peran sebagai agregator gas, PGN masih memerlukan kepastian pasokan gas baik dari sumur gas atau LNG. Padahal, jika sudah ada kepastian penyerap gas akan membuat kegiatan pencarian gas bergairah karena sudah ada kepastian pembeli gas.

“Jaminan suplai dari sumur gas yang ada dan LNG, dari hulu ada kepastian setelah melakukan eksplorasi ada pembelinya holding gas PGN itu konsepnya perlu dukungan pemerintah itu menjadi penting,” ungkap Suko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here