
Pulau Bunyu, Petrominer – PT Pertamina EP Bunyu Field terus mendorong pengembangan kemandirian dan keberlanjutan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kecamatan Bunyu, Bulungan, Kalimantan Utara. Kali ini, direalisasikan melalui Pelatihan Manajemen Usaha dan Pengolahan Produk Turunan Tanaman Hidroponik bagi Kelompok Wanita Tani (KWT).
Head Communication Relations & CID Zona 10, Elis Fauziyah, mengatakan pelatihan ini diadakan dengan tujuan agar UMKM dapat terus meningkatkan kemandiriannya sehingga dapat memanfaatkan potensi lokal secara maksimal. Diikuti 22 peserta yang digelar di Rumah Produksi UMKM, Jalan Dewa Ruci, Desa Bunyu Selatan, Kecamatan Bunyu, Sabtu (15/8).
”Pengembangan potensi lokal seperti pertanian hidroponik, perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat program tidak berhenti pada pemberian bantuan oleh perusahaan, namun masyarakat sendiri memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan potensi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Elis, Selasa (1/9).
Materi yang diberikan meliputi pencatatan keuangan, penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pemasaran, serta praktik membuat berbagai produk turunan dari hasil hidroponik. Pada pelatihan ini, Pertamina EP Bunyu Field menggandeng Rismiyati, pelaku UMKM Yumna Food dari Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, sebagai pemateri sekaligus instruktur praktik.
Sebelumnya, menurut Elis, hampir 60 persen peserta tidak pernah menghitung HPP dan masih menggunakan harga pasar sebagai acuan dalam menentukan harga jual. Melalui pelatihan ini, peserta diajak memahami pentingnya HPP dan diperkenalkan cara menghitung seluruh komponen biaya produksi secara lebih menyeluruh, termasuk biaya tenaga anggota kelompok.
Tak hanya pengelolaan usaha, para peserta juga belajar mengembangkan hasil hidroponik menjadi produk olahan. Sekitar 91 persen peserta mengaku dapat pengalaman baru dalam membuat produk turunan seperti dodol melon, keripik kulit semangka, serta mi kering berbahan sawi, wortel, dan buah naga. Bagi peserta, keterampilan tersebut membuka cara pandang baru terhadap hasil hidroponik.
“Produk yang sebelumnya dijual dalam bentuk segar, kini dapat diolah menjadi produk dengan masa konsumsi lebih panjang dan berpotensi memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Elis mengakui pertanian hidroponik merupakan salah satu potensi di Pulau Bunyu yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dengan kemampuan mengolah hasil panen dari pelatihan yang diselenggarakan, masyarakat tidak hanya menjual produk dalam bentuk segar, tetapi juga dapat menciptakan produk turunan yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.
Nilai Ekonomi Baru
Pelaksanaan PPM dan pelatihan ini merupakan kolaborasi Pertamina EP Bunyu Field bersama KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap, dengan dukungan Pemerintah Kecamatan Bunyu, Pemerintah Desa Bunyu Barat, dan Pemerintah Desa Bunyu Selatan. Dengan penguatan keterampilan produksi sekaligus pengelolaan usaha, pengembangan hidroponik ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bukan hanya menghasilkan panen, tetapi juga membuka peluang lahirnya produk, usaha, dan nilai ekonomi baru di Bunyu.
Ketua KWT Amanah, Munsi, menilai pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan dalam mengembangkan usaha kelompok.
“Kami jadi tahu bahwa hasil hidroponik tidak hanya bisa dijual dalam bentuk sayuran atau buah segar, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Kami juga belajar menghitung HPP, mencatat keuangan, dan memasarkan produk. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ujar Munsi.
Dia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok. Setelah pelatihan, para peserta diharapkan bisa terus berinovasi dan mengembangkan berbagai produk dari hasil hidroponik kelompoknya.
Sementara Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Bunyu, Adriani, mengapresiasi upaya Pertamina EP Bunyu Field dalam meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat. Pengembangan hasil hidroponik menjadi produk olahan ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi lokal.
“Kami berharap ibu-ibu dari KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang telah diberikan oleh pemateri dalam mengembangkan usaha kelompok,” ujar Adriani.








Tinggalkan Balasan