
Jakarta, Petrominer – PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) memperluas portofolio energi barunya dengan mengakuisisi 99,9 persen saham PT Endorshine Energy Solutions. Akuisisi tersebut membawa dua proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 21,3 MWp di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau, ke dalam portofolio ARKO.
Langkah ini sekaligus menandai masuknya ARKO secara resmi ke bisnis PLTS. Selama ini, perusahaan tersebut lebih dikenal sebagai pengembang pembangkit listrik tenaga air (PLTA) run-of-river.
Presiden Direktur ARKO, Aldo Artoko, mengatakan akuisisi Endorshine merupakan bagian dari strategi perusahaan memperkuat posisi sebagai perusahaan energi terbarukan yang lebih terintegrasi.
“Akuisisi Endorshine mencerminkan komitmen kami untuk terus bertumbuh dengan tetap terbuka terhadap berbagai peluang pengembangan, baik secara organik maupun melalui langkah-langkah strategis secara anorganik,” ujar Aldo dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Senin (14/9).
Akuisisi dilakukan dari pemegang saham sebelumnya, Yang Solar Solutions Pte Ltd. Seluruh conditions precedent telah terpenuhi sehingga transaksi dinyatakan selesai tanpa memerlukan proses tambahan.Berdasarkan surat Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-AH.01.09-0393673 yang diterima perseroan pada 24 Agustus 2026, Endorshine kini efektif beroperasi di bawah PT Arkora Tenaga Matahari (ATM), anak usaha ARKO yang dibentuk sebagai kendaraan akuisisi dan pengembangan bisnis energi surya.
Dua proyek yang diakuisisi terdiri atas PLTS Terapung di reservoir Bintan Resort Cakrawala (BRC), Bintan, berkapasitas 10,27 MWp, serta PLTS Atap di Batamindo Industrial Park (BIP), Batam, dengan kapasitas 11,05 MWp. PLTS BRC mulai beroperasi pada kuartal I 2025 dan memiliki kontrak selama 25 tahun. Sementara PLTS BIP telah beroperasi sejak kuartal II 2025 dengan masa kontrak yang sama.
Menurut Aldo, ekspansi tidak semata ditujukan untuk memperbesar skala operasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham. Masuknya ARKO ke bisnis surya juga memperluas kontribusi perusahaan dalam penyediaan energi bersih dan mendukung percepatan transisi energi nasional.
Diversifikasi tersebut memperkuat posisi ARKO yang sebelumnya bertumpu pada PLTA run-of-river. Dengan tambahan PLTS, perusahaan kini memiliki dua sumber energi terbarukan dalam portofolio pembangkitnya.
“ARKO kini memiliki kapasitas pembangkit terkontrak sebesar 84,1 MW. Kapasitas itu terdiri atas enam proyek PLTA dengan total 62,8 MW dan dua proyek PLTS sebesar 21,3 MWp,” ungkapnya.
Di luar kapasitas terkontrak tersebut, ARKO masih memiliki pipeline proyek energi terbarukan lebih dari 300 MW. Akuisisi Endorshine sekaligus memperluas jenis energi terbarukan yang dikembangkan serta memperbesar sebaran geografis aset perseroan.

Pertumbuhan Jangka Panjang
ARKO juga mencatat kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Sepanjang 2017 hingga 2025, perusahaan ini mengklaim telah menurunkan emisi sekitar 277.241 ton CO₂eq.
Dengan masuknya bisnis PLTS, perusahaan menilai kontribusinya terhadap pengembangan energi bersih dapat semakin diperluas, termasuk dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Ke depan, ARKO akan mengoptimalkan aset yang telah dimiliki sekaligus menjajaki peluang pertumbuhan baru di sektor energi terbarukan. Kombinasi pengalaman di pembangkit tenaga air dan ekspansi ke energi surya menjadi basis perusahaan untuk memperbesar portofolio pembangkit.
Didirikan pada tahun 2010, ARKO merupakan perusahaan pembangkitan listrik berbasis energi baru dan terbarukan yang mengembangkan PLTA run-of-river dan PLTS. Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2022.









Tinggalkan Balasan