Dimotori ANTAM, Indonesia Bakal Punya Pabrik Baterai Listrik Terbesar di Asia

0
93
Ilustrasi baterai mobil listrik.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah mempercepat program hilirisasi sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sekaligus mendorong transformasi perekonomian nasional. Salah satu pilar utama kebijakan ini adalah pengembangan pengolahan nikel untuk industri baterai listrik.

Kali ini, keseriusan pemerintah direalisasikan melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang menyaksikan penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) oleh konsorsium ANTAM-IBI-HYD. Kesepakatan ini menandai terbentuknya kemitraan resmi dalam merealisasikan proyek ekosistem baterai listrik terintegrasi.

“Ini adalah bagian dari negosiasi yang cukup panjang sekali sejak saya masih Kepala BKPM/Menteri Investasi. Waktu itu adalah bagaimana kita mendorong pembangunan realisasi dan membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi,” ujar Bahlil usai menyaksikan penandatanganan kerjasama antara ANTAM, IBI dan HYD di Kantor Kementerian ESDM, Jum’at (30/1).

Penandatanganan kerangka kerja sama dilakukan oleh Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Untung Budiharto, PT Indonesia Battery Corporation (IBI), Aditya Farhan Arif, dan Director HYD Investment Limited, Liu Jinzheng. Kemitraan ini untuk mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia. HYD Investment Limited adalah konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk (DBL).

Menurut Bahlil, kepemilikan mayoritas konsorsium tersebut akan dipegang ANTAM sebagai BUMN, karena harus memprioritaskan kepentingan negara sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Meski begitu, dia mengakui bahwa pengembangan industri ini masih membutuhkan dukungan mitra luar negeri, terutama dalam bentuk transfer teknologi, akses pasar, dan manajemen profesional. 

Terbesar di Asia

Dengan rencana kapasitas produksi baterai listrik mencapai 20 Giga Watt hour (GWh), ekosistem yang dikembangkan diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Estimasi nilai investasi proyek ini mencapai US$ 6 miliar, dengan potensi penciptaan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru. Rencana tersebut akan dirinci lebih lanjut melalui studi kelayakan yang masih disusun.

“Jadi kita, Insya Allah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan,” tegas Bahlil.

Proyek ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga mendukung pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program PLTS 100 GW. Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panel surya.

Kolaborasi antara investor global Huayou dan EVE Energy dengan perusahaan nasional seperti ANTAM, IBI, dan DBL diharapkan mendorong transfer teknologi sehingga perusahaan nasional kelak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Pemerintah menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan daerah dalam membangun ekosistem baterai, yang direncanakan melibatkan pihak-pihak setempat, seperti mitra di Jawa Barat dan pengembangan tambang, smelter, serta pabrik hilirisasi yang akan dibangun di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here