, , ,

Di Pulau Obi, Slag Nikel untuk Pembenah Tanah

Posted by

–

Ternate, Petrominer — Di balik geliat industri nikel Maluku Utara, ada persoalan yang tak kalah penting dari produksi mineral itu sendiri, yakni bagaimana mengelola material sisa agar tidak berhenti sebagai beban lingkungan.

Pertanyaan tersebut coba dijawab Harita Nickel melalui inovasi pemanfaatan slag nikel dari proses Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Material sisa itu dikembangkan menjadi soil ameliorant atau bahan pembenah tanah untuk mendukung reklamasi lahan pascatambang di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Inovasi tersebut bukan sekadar gagasan di atas kertas. Perusahaan tambang mineral itu melakukan pengujian dilakukan melalui studi lapangan pada salah satu mine pit di Pulau Obi tahun 2024, dengan membandingkan media tanam yang menggunakan campuran slag dan media tanpa slag. Pertumbuhan tanaman kemudian dipantau untuk melihat efektivitas pemanfaatan material tersebut dalam mendukung proses reklamasi.

Langkah itu membawa pendekatan baru dalam melihat material sisa industri nikel. Alih-alih hanya dikelola sebagai material yang harus ditangani, slag dikaji untuk dikembalikan ke dalam siklus pemanfaatan sebagai bagian dari proses pemulihan lahan.

Pendekatan ini sekaligus mempertemukan dua kepentingan dalam kegiatan pertambangan, yakni pengelolaan material sisa dan pemulihan ekosistem pascatambang. Pengembangan pemanfaatan slag tersebut kemudian diperkuat melalui SNI 9420:2025, yang menjadi pedoman pemanfaatan slag nikel sebagai pembenah tanah dalam kegiatan reklamasi tambang nikel.

Bagi industri pertambangan, keberadaan standar menjadi tahapan penting. Inovasi tidak lagi berhenti sebagai praktik di satu lokasi, tetapi memiliki kerangka yang dapat menjadi acuan dalam penerapan dan pengembangan lebih lanjut.

Direktur HSE Harita Nickel, Tonny Gultom, mengatakan proses tersebut merupakan bagian dari prinsip continuous improvement. Setiap praktik yang telah dijalankan, menurutnya, perlu dievaluasi untuk menemukan ruang perbaikan, termasuk dalam pengelolaan lingkungan dan material sisa.

“Hasil tersebut akan menjadi acuan kami untuk terus melakukan perbaikan di area yang masih perlu ditingkatkan,” ujar Tonny.

Diuji di Lahan Pascatambang

Bagi kegiatan reklamasi, tantangan utamanya bukan sekadar menanam kembali lahan yang telah ditambang. Kondisi media tanam dan kemampuan lahan mendukung pertumbuhan vegetasi menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan revegetasi.

Di sinilah pemanfaatan slag memperoleh konteksnya. Material yang berasal dari proses pengolahan nikel tersebut diuji sebagai bagian dari media tanam, sehingga pemanfaatannya memiliki keterkaitan langsung dengan upaya memulihkan lahan pascatambang.

Kepala Pusat Studi Reklamasi Tambang IPB, Irdika Mansur, menilai inovasi tersebut memiliki potensi untuk memberikan nilai tambah terhadap material sisa industri nikel.

Menurutnya, pemanfaatan slag juga dapat mendukung kegiatan reklamasi secara lebih sistematis, khususnya dalam memperbaiki kondisi media tanam pada lahan pascatambang.

Pandangan tersebut tidak terlepas dari pengamatannya terhadap kegiatan reklamasi di Pulau Obi. Irdika menyebut pendekatan berbasis sains dan pemanfaatan spesies lokal menjadi bagian dari proses revegetasi yang dilakukan di area tersebut.

Harita Nickel tercatat telah melakukan reklamasi pada 272 hektare lahan pascatambang di Pulau Obi. Sejumlah vegetasi lokal, seperti jabon merah, cemara, kayu putih, gofasa, dan gosale, digunakan dalam proses revegetasi.

Artinya, inovasi slag ditempatkan bukan sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai salah satu bagian dari rangkaian pendekatan dalam pemulihan lahan.

Pengakuan Global

Perjalanan inovasi tersebut kemudian mendapat pengakuan di tingkat internasional. Harita Nickel meraih Mining Magazine Awards 2026 dalam kategori Tailings Innovation Award untuk inovasi pengelolaan sisa hasil produksi.

Dalam kategori tersebut, Harita Nickel mengungguli Bactech Environmental Corporation dan Fab5 GeoSolutions. Penilaian juri mencakup terobosan dalam pengelolaan material sisa, tanggung jawab terhadap lingkungan, efisiensi operasional, hingga manfaat bagi masyarakat.

Editor Mining Magazine sekaligus Ketua Juri Mining Magazine Awards, Beth McLoughlin, mengatakan para pemenang menunjukkan inovasi yang menempatkan mereka di garis depan perkembangan industri pertambangan.

“Para pemenang telah menempatkan diri mereka di jajaran terdepan melalui inovasi yang mereka hadirkan,” ujar Beth.

Pengakuan tersebut menarik karena inovasi yang mendapat sorotan bukan semata teknologi untuk meningkatkan produksi, melainkan cara mengelola konsekuensi dari proses produksi itu sendiri.

Menjawab Tantangan

Bagi Maluku Utara, persoalan tersebut menjadi semakin relevan seiring berkembangnya industri nikel dan keterhubungannya dengan rantai pasok mineral global.

Akademisi Teknik Pertambangan Universitas Khairun, Almun Madi, mengatakan daya saing pertambangan Maluku Utara ke depan tidak cukup hanya ditentukan oleh kapasitas produksi.

“Daya saing industri pertambangan Maluku Utara ke depan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan inovasi yang membuat kegiatan pertambangan semakin bertanggung jawab,” ujar Almun.

Menurutnya, material sisa harus ditempatkan sebagai bagian dari siklus pengelolaan tambang. Artinya, industri tidak hanya dituntut mengurangi material sisa, tetapi juga mencari kemungkinan pemanfaatannya kembali secara aman dan berbasis kajian.

Dalam konteks itu, inovasi pemanfaatan slag menjadi pembenah tanah menunjukkan bagaimana persoalan material sisa dapat didekati melalui riset dan rekayasa pemanfaatan.

Namun, perjalanan inovasi tersebut belum berhenti. Almun mendorong penguatan kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi di Maluku Utara untuk mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan slag menjadi produk bernilai tambah lainnya.

Pada akhirnya, keberhasilan inovasi slag nikel tidak hanya diukur dari penghargaan yang diperoleh. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana material sisa tersebut benar-benar dapat diberi fungsi baru, membantu proses pemulihan lahan, dan mengurangi beban pengelolaan lingkungan dari kegiatan pertambangan.

Dari Pulau Obi, sebuah material yang lahir dari proses pengolahan nikel kini mendapat kesempatan menjalani siklus kedua, yakni bukan lagi sekadar sisa produksi, melainkan bagian dari upaya mengembalikan fungsi lahan pascatambang.

Satu tanggapan

  1. Avatar Giat Penyami
    Giat Penyami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *