Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin.

Jakarta, Petrominer – Sejak Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 disahkan, Indonesia harus memaksimalkan dan memberikan nilai tambah pada sumber daya mineral dan batubara yang tersedia, termasuk di antaranya Logam Tanah Jarang (LTJ). Pasalnya, mineral merupakan sumber daya alam yang strategis dan penting bagi pengembangan industri nasional.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Ridwan Djamaluddin, menyatakan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki kewenangan dalam menyusun regulasi dan kebijakan LTJ. Mulai dari eksplorasi hingga terwujudnya industri.

“Selanjutnya perlu didorong industri yang mampu menyerap LTJ dalam negeri dan mineral yang dimiliki. Indonesia sudah saatnya memiliki perhatian besar untuk menuju negara industri yang mandiri,” ujar Ridwan dalam Webinar bertajuk “Mineral for Energy (Radioaktif/Nuklir – Baterai)”, Jum’at malam (10/9).

Dia juga mengatakan bahwa dari kajian mineral ikutan pertambangan timah yang telah dilakukan oleh Kementerian ESDM pada tahun 2017 silam, ada prioritas pengembangan untuk industri strategis berbasis timah, yakni industri pertahanan, kesehatan, dan industri energi.

“Dapat dikatakan mineral-mineral ini akan menjadi bahan baku industri masa depan. Dari survei yang dilakukan oleh Badan Geologi, setidaknya ada 28 LTJ yang potensial untuk dilanjutkan eksplorasinya. Ada juga mineral kritis dan strategis, di mana mineral-mineral ini keberadaannya sangat penting, tak tegantikan, dan akan menjadi bahan baku berbagai industri masa depan,” jelas Ridwan.

Dia mengakui bahwa saat ini belum ada regulasi yang mengatur terkait LTJ. Meski begitu, Pemerintah telah membentuk tim dan melakukan penyusunan awal Instruksi Presiden (Inpres) terkait hal tersebut.

“Saat ini secara spesifik belum ada regulasi, namun Pemerintah sudah membentuk tim, yaitu tim pengembangan industri berbasis LTJ dan penyusunan Inpres percepatan hilirisasi LTJ.” Ujar Ridwan.

Sementara itu, terkait peran mineral dalam industri baterai untuk kendaraan berbasis listrik, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana, memaparkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis pada industri baterai global.

“Indonesia memilliki total sumber daya nikel terbesar dengan 143 juta ton dan total cadangan sebesar 49 juta ton di tahun 2020. Tidak hanya nikel, Indonesia juga memiliki cadangan alumunium terbesar ke 6, tembaga di urutan ke-5, dan mangan pada urutan ke-6,” jelas Agus.

Selain itu, menurutnya, Pemerintah juga perlu menyiapkan regulasi ataupun kebijakan guna mendukung percepatan 20 persen kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan, insentif dan subsidi, serta pemilihan teknologi yang tepat.

Webinar “Mineral for Energy (Radioaktif/Nuklir – Baterai)” ini merupakan seri pertama dari Webinar Series “Minerba untuk Indonesia Tangguh dan Indonesia Tumbuh” yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pertambangan dan Energi ke-76 pada 28 September mendatang. Webinar seri berikutnya akan dilaksanakan tanggal 14, 17, dan 24 September 2021, dengan tema berbeda.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here