Anggota kelompok Tani Tunas Makmur membuat kerajinan tas berbahan dasar dari daun nanas di koperasi Tunas Makmur di Sei Pakning, Bengkalis, Riau.

Bengkalis, Petrominer – Masyarakat Kampung Gambut Berdikari di Kabupaten Bengkalis, Riau, boleh berbangga hati. Mereka tidak hanya berhasil mengubah lahan gambut menjadi kebun nanas. Daun nanas yang pada awalnya dibuang begitu saja, kini mereka olah menjadi kerajinan tas yang memiliki nilai ekonomi.

Kampung Gambut Berdikari merupakan program unggulan corporate social responsibility (CSR) PT Pertamina (Persero) yang bertujuan mengurangi kebakaran lahan gambut sekaligus meningkatkan ekonomi petani. Untuk menyukseskan program ini, dalam 4 tahun terakhir, Pertamina telah mengucurkan dana sekitar Rp 880 juta, dan berhasil mengurangi kebakaran lahan di area seluas 200 hektar. Tidak hanya itu, program ini juga ikut meningkatkan cadangan air melalui sekat kanal dan embung air.

“Pertamina menggandeng para petani nanas untuk mengolah lahan gambut agar produktif dan terus mendorong para petani menaikkan nilai tambah dengan mengolah nanas hingga daunnya menjadi makanan olahan dan kerajinan tas,” ujar General Manager Pertamina Refinery Unit II, M Dharmariza.

Menurut Dharmariza, program ini juga berhasil menciptakan lapangan kerja baru baik sebagai petani nanas, perajin olahan nanas, perajin limbah nanas serta pengelola arboretum gambut dengan tambahan penghasilan sekitar Rp 2 juta per bulan.

Rosdiana, salah satu petani olahan nanas menyatakan, dia bersama warga lainnya sangat terbantu dari sisi ekonomi pasca mengembangkan usaha budidaya dan makanan olahan nanas.

“Kami ucapkan terima kasih dengan adanya Pertamina. Mungkin kalau tak ada bantuan Pertamina, kami tak akan seperti ini,” ungkapnya.

Hal senada dikemukakan Ariati, perajin kerajinan tas dari daun nanas yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Makmur. Menurutnya, usaha kerajinan tas dari daun nanas dimulai sejak awal tahun 2019, dimana gagasan itu muncul lantaran keprihatinan masyarakat sekitar karena banyaknya daun nanas yang terbuang pasca panen.

“Awalnya kami melihat daun nanas banyak yang dibuang. Makanya kita pikir mau diapakan daun nanas supaya tidak jadi limbah. Kita bikin tas Alhamdulillah jadi tasnya,” terang Ariati.

Ditambahkan Ariati, tas dari daun nanas ini memiliki banyak keunggulan. Antara lain memiliki kualitas yang baik serta dijual dengan harga yang terjangkau.

“Harga yang (tas) kecil Rp 5.000. Kalau yang besar Rp 40.000. Saat ini, pemesanan sudah banyak,” imbuhnya.

Petani olahan nanas menyatakan sangat terbantu dari sisi ekonomi pasca mengembangkan usaha budidaya dan makanan olahan nanas.

Masih menurut Ariati, pasca di produksi, tas berbahan dasar daun nanas ini pun mendapatkan respon positif dari masyarakat sekitar. Bahkan pemesanan akan produk ini pun kian bertambah dari hari ke hari.

“Kami dari kelompok tunas makmur mengucapkan terima kasih kepada Pertamina. Berkat bantuan Pertamina, masyarakat Kampung Jawa bisa menambah penghaasilan dari sebelumnya,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here